Surat dari Tuhan

Ku liat ada amplop surat tergeletak di atas meja saat aku terbangun oleh bunyi BBm Yolanda.

BBm (*Blackberry Messenger) Yolanda:
HAI pAGi SaYANgKYuU,
BaNgUN DoNK SAY….
MUAAACH……
LuV Y0Y0

Kuambil  surat itu dan tertulis  “Dari: Tuhan Kekasihmu”.

Kuletakkan kembali surat itu diatas bantal dan segera aku membalas BBm Yolanda, bisa marah besar bila BBmnya tidak dijawab secepat mungkin.

BBm Reply:
Pageeeee jugaaaaaa my huneeeey ….!!!
I love u muaah muahhh ^^

Setelah mandi dan berpakaian seragam sekolah, sempat kulirik surat itu tapi kuacuhkan. Aku turun dari kamar menuju ruang makan. Dalam benakku saat ini hanyalah melahap habis sarapan. Nasi goreng dan secangkir teh manis hangat.

Diiringi nasihat agar hati-hati, jangan nakal, klo ada apa-apa jangan lupa telepon dan plus ditambah lagi cium pipi dari nyokap. Bheuuh – Aku pun berangkat ke sekolah.

Perjalanan dari rumah ke sekolah tidak membutuhkan waktu lama. Aku bisa tempuh hanya dalam waktu 15 menit dengan bersepeda ria. “Hai Dino!” sapa Yulia, teman satu sekolah dan teman setiaku ber-bike to school. “Hai, pagi!” sahutku. Dan kami pun sepakat balapan sampai sekolah. Yeaah pagi yang semangat!

Kriiiiiing…!!! Bel sekolah berbunyi.

Teman-temanku pada bergegas masuk ke kelas masing-masing.
“Wow, kupikir kita akan telat, Din! Hahahaha…” Tawa Yulia sambil mengunci sepedanya. Saat mau meletakkan sepeda diparkiran, kutemukan kembali surat. Lagi-lagi surat dari Tuhan. Hmm.. Ku ambil dan masukan ke dalam tas.

Anyway. Namaku Dino, 13 tahun saat ini dan kelas 1 SMP. Bersekolah di Negeri 70. Sekolahku merupakan salah satu sekolah unggulan di kota ini. Alasan utama Bonyok memilih sekolah ini sebenarnya hanya karena dekat dari rumah. Just it. Tak repot-repot mengantar-menjemput anaknya.

“Bro…!” Hardi mengampiri dengan muka senyam-senyum, dan sok akrab dengan merangkul bahuku. “Yooh bro… ada surat neh dari si cewe.. ehem…hem…”

“Ssstt….! Jangan kencang-kencang… nanti Yoyo dengar…”
“Ups.. maaf deh bro…hehehe…” Hardi menyerahkan surat dengan diiringin tawa tengilnya.

“Lah.. ngapaen loe masih disini??!”
“Uang tips bro.. tutup mulut… hehehe…” Sialan.

Clink! Bunyi message baru.

Y0Y0: DiM4nA SAY!
1StiRahaT KeTeMu Di KAnTiN yAH…MuaCHH,,,!

D1no74CK: Ok

Y0Y0: iIIH ApAAN S3h kOk BaLeSnA gA NiAt GetU,,
G4 JaDi KetEmUan DeH!!!

D1no 74CK: Iya sayang, huneeykuu….
Istirahat kita makan bareng yah sayang..
luv u…

Y0Y0: GeTU dOnG SaY
C U,,,,MUACCH,,,, JaIhO,,,! ^^

(-_-“)

Pelajaran Bahasa. Pelajaran Matematika dan dilanjutkan dengan Agama. Kubuka halaman perhalaman, dan jariku terhenti ketika baru ingat ada dua surat terselip. Surat dari Tuhan dan satu lagi dari… Niken, sesuai dengan nama yang tertera diamplop.

Surat dari Niken lebih menarik hatiku untuk membuka dan membaca. Amplop berwarna pink, ada gambar “love-love”-nya segala, harum pula. Kudiamkan lagi surat dari Tuhan.

Isi surat Niken – ngakunya adek kelas paling imut sedunia – mengajak kenalan, memuji-muji aku setinggi langit betapa tampan, pintar dan berharap kapan-kapan bisa jalan dengan diriku. Ok deh.

Kriiiiiing…!!!
Bel istirahat.

“Halo sayaang… aku kangen neh ama kamu.”
“Aku juga kangen ama kamu, Yo.”
“Kita makan somay itu aja yah, Say…”
“Yuuk…” Aku iyahkan ajakan Yolanda makan somay depan sekolah. Karena sudah cukup lapar juga. “Heh … ini APAA??!!”
“A…ah… i..ini…”
“AYOO surat dari sapa neh??!!” dengan mata melotot Yolanda dengan cepat mengambil surat dari saku celanaku. Mampus. Aku kaget, bisa ketahuan neh baru saja mendapat surat dari cewe lain. Bisa didamprat abis-abisan tuh cewe.

“Oooh…surat dari Tuhan…” wajah Yolanda kembali tenang “Neh… simpan lagi…”

Fiuh… lega hatiku urung deh terjadi pertumpahan darah.

Sambil makan Yolanda ngerocos, dan cerita tanpa henti. Aku hanya mengangguk-angguk mendengarkan tapi pikiranku melayang, masih heran kenapa surat ini ada di sakuku. Dengan yakin aku selipkan kembali ke buku agama ditas. Definitely.

Penasaran, kuambil surat tersebut dan saat mau kubuka, Yolanda menarikku mengajak menemani dia ke perpustakaan. Mengadem, “…mumpung ada waktu 10 menit sebelum jam pelajaran berikut…” alasannya.

Aku pun lupa akan surat tersebut, terlena dengan komik yang kubaca.

Pukul 16.45
“Maam… Dino mau pergi ke mall ama Yoyo yah.”
“Okay, huney…hati-hati loh…”

Dengan sedikit keliling mall, sedikit makan, dan sedikit nonkrong di Starbuck. Trip ke mall diakhiri dengan duduk manis di dalam theater XXI. Seperti biasa.

“Say, aku pipis dulu yah.” Yolanda menyuruhku menunggu “Jangan kemana-mana loh, say!”

Sembari menunggu aku maen-maen dengan Blackberryku. Tiba-tiba ada yang mencolekku dari belakang. “Dek, ada yang jatuh.” Seorang bapa cukup berumur dengan senyum menyodorkan sebuah amplop surat. Oh my… ini kan surat dari Tuhan. Aku yakin kutinggalkan di kamar.

“E..eh.. ma..makasih Oom…” jawabku terbata-bata, shock.
“Napa dek? Ini bukan surat kepunyaanmu?”
“Oh..iya punya saya Oom.”
“Sepertinya ini surat sangat penting sampai kamu bawa kemana-mana, jangan sampai jatuh tercecer lagi yah.”

Kusambut surat itu dari tangan bapa tersebut. Dan bapa itu berlalu sambil tersenyum. Aku terdiam terpaku. Shock.

“HEEH…!!!” kejut Yolanda menepuk keras bahuku.

Kamfret! Kaget.

“Aduh sayaang kok muka kamu pucet getu seh.. aduh maaf yah sayang, kaget yah???!”
Yolanda berusaha menenangkan dengan mengusap-usap dadaku. Aku meminta waktu untuk duduk sebentar.

“…kamu marah yah, sayang? Aku kan cuman bercanda…”
“Ga papa kok… yuk…” Kugandeng tangan Yolanda menuju pintu masuk XXI.

Announcer sudah mengumumkan theater 5 sudah dibuka dan dimohon pemilik tiket segera memasuki ruangan.

Berasa yang terdengar dikupingku: “Perhatian… perhatian… kepada yang menerima surat dari Tuhan harap segera dibuka… Terima kasih!”

Pukul 22.00. Rumah. Waktunya tidur.

Lelahnya hari ini. Sepulang dari mengantar Yolanda aku bergegas mandi dan merebahkan badan ke kasur. Kusempati menonton TV, ngetwit dan membalas BBm dari temen-temenku. Akupun tertidur.

Dalam lelap, aku bermimpi berjalan sendiri di suatu taman, pohon-pohon rindang sekitarku dan tanaman dengan bunga berwarna-warni bermekaran. Langit sangat cerah. Kicau burung bersayut-sayutan dan bunyi Gemerisik air menambah kesan damai taman ini.
Ditengah taman mataku tertuju Sesosok Pria duduk di bangku, Dia melihatku, melambaikan tangan dan tersenyum ramah.

Dia mengampiriku dan memberi sebuah pelukan hangat, lalu mengajakku berjalan bersamaNya mengintari taman. Dia mengenalkan diriNya; Tuhan. Aku diam, menatap wajahnya dan bertanya: “Apakah Tuhan ini yang selama ini mengirim surat untukku?”

“Iya, anakKu.” Tuhan tersenyum ramah denganku.
“Ma..maaf aku be..belum sempat membaca suratnya…” Aku tertunduk malu.

“Tidak apa-apa.” Lagi-lagi Tuhan tersenyum dan mengusap kepalaku dengan perasaan sayang.

Aku pun terus berjalan disamping Tuhan dan mengobrol, entah telah berapa lama.

Berdekatan denganNya memberi damai dihati, aku selayaknya anakNya yang telah lama hilang dan kembali dan aku benar-benar merasakan kasih sayang seorang Bapa.

Waktu seperti cepat berlalu. Tuhan mengatakan aku harus kembali, dan memberiku sebuah buku. “Buku Kehidupan.” kataNya. “Ini sebagai pelengkap dari surat yang Kuberi sebelumnya.” Dia memelukku kembali. Hangat. Nyaman dan damai. Sungguh berat hati berpisah, tapi Dia memberikan janjiNya: “Jangan takut Aku akan datang kembali. Sering-sering bersapa denganKu yah.”

Aku terbangun. Ku ambil dan sedetik kemudian membaca isi surat yang telah lama aku acuhkan selama ini. Saat ku baca surat tersebut tak kuasa air mata mengalir membasahi pipi. Kubaca terus berulang-ulang. Perasaan haru, bahagia, bersyukur menjadi satu… Terpenuhi dahaga kerinduan selama ini yang aku cari-cari.

Tweeeet……!!! Clink! Clink! Weker dan Bbku bunyi berbarengan.

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan sukacita. Ku duduk di tepi kasur, mengawali hari ini dengan doa dan memanjatkan syukur padaNya. Aku tersenyum. Dan Dia tersenyum. =)

Hari-hari menjadi baru.
Karena ada Dia berjalan bersamaku.

by Irwin Permata

Iklan

Mendung Bukan Berarti Hujan

Yakin telah sampai tempat pemberhentian yang seharusnya. Ia menekan tombol bel-yang telah lama diperhatikan-di atas kepalanya. Dirogoh saku celana mengambil uang recehan dua ribu rupiah dan segera membayarkan ongkos bisnya.

Ia menyeberang dengan hati-hati, mengikuti siswa-siswa lain yang sama dengannya. Kepalanya ditundukkan. Menahan rasa ngantuk. Malu menguap. Ia melangkah dengan kadang-kadang diperlambat dan kadang-kadang dipercepat. Sesuai yang ia mau. Sesampai di gerbang sekolah. Hanya satu yang Ia pikirkan: meminjam pekerjaan teman, dan menyalinnya dibuku tugas. Dinaikinya anak tangga itu satu demi satu. Dengan kepala tertunduk; lesu, ngantuk. Dilihatnya David, tegak di depan pintu kelas, “Pagi. Susan sudah datang belum?”

“Cowo Susan suka datang ke kelas?”

“Biasanya,” kata David singkat. Tidak seperti biasa.

“Biasanya…. Biasa bagaimana?”

Saat melihat-lihat sekeliling kelas. Matanya menemukan seorang perempuan. Duduk. “Pa-gi, Susan,” sapanya canggung, “Kamu dengar pembicaraan kami tadi?”

“Bukan saya yang mulai. Dia yang mulai.” Ia menunjuk ke arah David. Pergi meninggalkan diri mereka.

Susan mengeluarkan senyuman tipisnya. Sangat tipis. Dan meneruskan perkerjaannya: menyalin tugas.

“Mengerjakan tugas apa?”

“Tugas Matematika.” Senyumnya mekar. Dan tetap tipis.

Dennis memperhatikan wajah manis dihadapannya. Menunduk. Seperti sang putri. Sungguh sejuk. Indah. Diperhatikannya dengan seksama. Menggairahkan. Gerak matanya, terpusat jernih pada gerak tangan. Halus. Ingin ia rasakan kehalusannya. Dennis tetap menatap bisu. “Ada yang salah?” ucapan Susan membuyarkan lamunannya

“’Dia’ sebentar lagi menemui kamu?”

“Tidak.” Senyumnya kembali tipis.

“Mengapa? Apakah dia belum datang?”

“Tidak….” Ia tersenyum. “Tidak tahu, ya.”

Dennis merasakan ada yang tidak beres dengan mereka. Senyum tipisnya mungkin dapat menutupi kesedihan. Kesepiannya. Tapi matanya, tidak. “Boleh saya duduk di sampingmu?”

“Silakan.” Tetap dibarengi senyum itu.

Didorong tubuhnya. Ransel tetap dipundak. Tidak dilepas. Duduk bersebelahan dengannya; bila ini mimpi. Ia tak mau bangun. Tak mau hanya sekejap. Diliriknya perempuan itu. Indah. Dan sangat indah. Gerakan matanya. Lembut. Tatapan penuh kesejukan, penuh kasih sayang.

“Apakah ‘dia’ akan datang?” tanyanya masih ragu-ragu.

Kepalanya mendongah, “Tidak. Dan semoga tidak.”

“Ada masalahkah diantara kalian?” tanyanya hati-hati. Memenuhi keingintahuannya.

“Ya…. Kami baru saja putus….”

Matanya menatap polos.

“Putus… Sorry. Saya tidak bermaksud….” Ia tak meneruskan. Ditatapnya wajah itu. Apakah ini suatu kesempatan. Tapi, mengapa bisa putus. Bukankah ia yang suka. Apakah yang salah? “Maaf sekali lagi. Bisakah saya tahu siapa yang mengambil keputusan ini?” tanyanya. Ia ingin tahu lebih banyak lagi.

“Bisa dikatakan kami sama-sama setuju.”

Dilihatnya ada peluang kembali untuk dirinya, “Susan, bisakah saya menemuimu di depan kelas ini sewaktu jam istirahat-sendirian.”

“Mungkin bisa. Lihatlah nanti.” Suatu ja-waban yang tidak pasti. Tapi. Satu senyuman kembali terlihat dibibirnya. Sama-sama tipis. Senyuman misterius. Iyahan atau lirih?

Buku itu diletakannya begitu saja. Waktu istirahat telah tiba. Dennis segera keluar dari kelas. Ada janji yang harus dipenuhi.

“Hai, saya kira kamu tidak akan mau menerimaku.”

“Tidak sulitkan?” ucapnya dengan diiringi senyum yang manis itu.

“Adakah kata yang tepat untukku?”

“Kata…? Hanya kamu yang tahu.”

“Bila… menurutmu,” ujarnya menahan nafas dulu, “mungkinkah diriku bisa bersamamu.”

Susan tersenyum dan lalu berkata, “Bisa. Itu bisa. Apabila kamu menginginkannya…”

Senyum itu kembali merekah, bukan satu tapi dua. Menyambut apa yang semestinya.

—End—

Malam Tak Berangin

Malam tak berangin. Karena siang turun hujan cukup lama. Saat lagi menatap bintang-bintang, bunyi dering telepon. Iren menerima telepon itu, tidak seperti yang diduga, bukanlah orang yang Iren kira. Jam-jam seperti ini, kalau bukan dari mama yang suka menanyakan ‘gimana kuliahnya, sayang’ atau ‘uang sakunya masih ada nggak?’ kalau dibilang udah habis, ‘coba cek deh ATM, nanti mama tambahi’ yah bisa lima bahkan sepuluh juta, beda dengan papa selalu aja menanyakan masalah keadaan Indonesia, emang papaku pengusaha yang cukup sibuk, selalu aja mainannya keluar, ke Hongkonglah, Jerman, China dan lain-lainlah, pokoknya satu bulan tuh ada aja papa meninggalkan mama, untunglah mamaku udah biasa, sejak kecil mamaku udah hidup berdua aja sama kakekku, karena nenek dulu meninggal sewaktu melahirkan mama. Mama emang wanita yang tegar, mama dan papa adalah idolaku. Papaku sekarang ada di negara yang kata papaku mendapat julukan negeri dongeng, yah papa melakukan bisnis dengan teman-teman papa di Denmark. Papa udah janji mau bawa oleh-oleh boneka, Iren emang suka sama boneka, habis lucu sih! Kamar Iren penuh dengan boneka-boneka, coba deh kapan-kapan main tempat Iren. Boneka-boneka koleksi Iren semua ada nilai historisnya, boneka bikinan mama masih Iren simpan, Iren waktu itu masih umur lima tahun, mama membikinnya khusus untuk ultah Iren, mamaku orangnya baik ya! Ada satu boneka yang kalau mau pergi-pergi jauh selalu Iren ajak, boneka itu pemberian cowok Iren, Iren sayang banget sama boneka itu, dan… tentunya sama cowok Iren juga dong! Nah, Iren kira yang nelepon itu cowok Iren, eh taunya si David. David tuh temenku satu kampus, ia satu tingkat dia atas Iren. Iren sebelum sama cowok Iren, dulunya suka sama David. Dan kalau ditanya ‘kok malah jadian sama yang sekarang?’, bukannya Iren bertepuk sebelah tangan, David juga suka kok sama Iren, kami dulu sering telepon-teleponnya, yah kadang hari ini si david besok gilirin Iren, saling gantian gitu. David juga suka ke rumah Iren, hanya sekadar mau ngajak ngobrol atau kadang Iren suka nyuruh David merapiin boneka-boneka Iren. Iren tinggal hanya bertiga sama pengasuh Iren, jadi cukup kesepian, mama dan papa aslinya orang Jakarta, Iren pertamanya disuruh sekolah di Jakarta aja biar deket ama mama dan papa, tapi Iren udah bosen dengan kota Jakarta penuh polusi, penuh dengan kemacetan, pokoknya tidak menarik lagi bagi Iren. Mama dan Papa suka juga kok menjenguk Iren. Waktu itulah Iren perlu orang seperti David yang mau menemani Iren kala butuh temen bicara. David orangnya cukup pengertian sama Iren. Dan juga sabar banget, itu emang harus ada karena Iren orangnya manja. David juga suka ngajak Iren jalan-jalan, ke mal hanya cari angin sambil ngobrol-ngobrol, yang Iren suka sama David tuh orangnya kocak banget, punya sense of humor, Iren suka ketawa kalau jalan berdua sama David. Kami juga suka nonton bareng, ke café bareng, pokoknya serba bareng. Nah, kalau kami begitu cocok dan serasinya, itu seperti temen-temen Iren bilang, kok nggak jadian aja? Karena Iren nggak sama agamanya dengan David. Kami sama-sama takut untuk memulai, saat Iren merasakan cintanya David, David sepertinya mulai menghindar dari Iren… Makin lama perasaan cinta Iren terhapus dengan waktu, tapi masih ada rasa sayang sih. “Hi, ren. Pa kabar?” “Baek. Kamu kemana aja sih? Kok baru sekarang telepon?” tanpa sadar manja Iren muncul deh. “Iya, maaf yah aku pikir kamu gak mau bertemu lagi” “Kok kamu berpikir gitu sih?! Kamu gak tau… I…Ir…Iren kangen ama David!” Air mata Iren pun tak tertahan lagi menetes. Bercampur perasaan benci, kangen, senang, dan godok menjadi satu. Ihik..ihik…bingung jadinya.

-End- hohohohoho ;p

mmm..cerita ini ga mungkin g lanjutin deh..kagak ada feel lg bwt nulisnya hehehhe….