Surat dari Tuhan

Ku liat ada amplop surat tergeletak di atas meja saat aku terbangun oleh bunyi BBm Yolanda.

BBm (*Blackberry Messenger) Yolanda:
HAI pAGi SaYANgKYuU,
BaNgUN DoNK SAY….
MUAAACH……
LuV Y0Y0

Kuambil  surat itu dan tertulis  “Dari: Tuhan Kekasihmu”.

Kuletakkan kembali surat itu diatas bantal dan segera aku membalas BBm Yolanda, bisa marah besar bila BBmnya tidak dijawab secepat mungkin.

BBm Reply:
Pageeeee jugaaaaaa my huneeeey ….!!!
I love u muaah muahhh ^^

Setelah mandi dan berpakaian seragam sekolah, sempat kulirik surat itu tapi kuacuhkan. Aku turun dari kamar menuju ruang makan. Dalam benakku saat ini hanyalah melahap habis sarapan. Nasi goreng dan secangkir teh manis hangat.

Diiringi nasihat agar hati-hati, jangan nakal, klo ada apa-apa jangan lupa telepon dan plus ditambah lagi cium pipi dari nyokap. Bheuuh – Aku pun berangkat ke sekolah.

Perjalanan dari rumah ke sekolah tidak membutuhkan waktu lama. Aku bisa tempuh hanya dalam waktu 15 menit dengan bersepeda ria. “Hai Dino!” sapa Yulia, teman satu sekolah dan teman setiaku ber-bike to school. “Hai, pagi!” sahutku. Dan kami pun sepakat balapan sampai sekolah. Yeaah pagi yang semangat!

Kriiiiiing…!!! Bel sekolah berbunyi.

Teman-temanku pada bergegas masuk ke kelas masing-masing.
“Wow, kupikir kita akan telat, Din! Hahahaha…” Tawa Yulia sambil mengunci sepedanya. Saat mau meletakkan sepeda diparkiran, kutemukan kembali surat. Lagi-lagi surat dari Tuhan. Hmm.. Ku ambil dan masukan ke dalam tas.

Anyway. Namaku Dino, 13 tahun saat ini dan kelas 1 SMP. Bersekolah di Negeri 70. Sekolahku merupakan salah satu sekolah unggulan di kota ini. Alasan utama Bonyok memilih sekolah ini sebenarnya hanya karena dekat dari rumah. Just it. Tak repot-repot mengantar-menjemput anaknya.

“Bro…!” Hardi mengampiri dengan muka senyam-senyum, dan sok akrab dengan merangkul bahuku. “Yooh bro… ada surat neh dari si cewe.. ehem…hem…”

“Ssstt….! Jangan kencang-kencang… nanti Yoyo dengar…”
“Ups.. maaf deh bro…hehehe…” Hardi menyerahkan surat dengan diiringin tawa tengilnya.

“Lah.. ngapaen loe masih disini??!”
“Uang tips bro.. tutup mulut… hehehe…” Sialan.

Clink! Bunyi message baru.

Y0Y0: DiM4nA SAY!
1StiRahaT KeTeMu Di KAnTiN yAH…MuaCHH,,,!

D1no74CK: Ok

Y0Y0: iIIH ApAAN S3h kOk BaLeSnA gA NiAt GetU,,
G4 JaDi KetEmUan DeH!!!

D1no 74CK: Iya sayang, huneeykuu….
Istirahat kita makan bareng yah sayang..
luv u…

Y0Y0: GeTU dOnG SaY
C U,,,,MUACCH,,,, JaIhO,,,! ^^

(-_-“)

Pelajaran Bahasa. Pelajaran Matematika dan dilanjutkan dengan Agama. Kubuka halaman perhalaman, dan jariku terhenti ketika baru ingat ada dua surat terselip. Surat dari Tuhan dan satu lagi dari… Niken, sesuai dengan nama yang tertera diamplop.

Surat dari Niken lebih menarik hatiku untuk membuka dan membaca. Amplop berwarna pink, ada gambar “love-love”-nya segala, harum pula. Kudiamkan lagi surat dari Tuhan.

Isi surat Niken – ngakunya adek kelas paling imut sedunia – mengajak kenalan, memuji-muji aku setinggi langit betapa tampan, pintar dan berharap kapan-kapan bisa jalan dengan diriku. Ok deh.

Kriiiiiing…!!!
Bel istirahat.

“Halo sayaang… aku kangen neh ama kamu.”
“Aku juga kangen ama kamu, Yo.”
“Kita makan somay itu aja yah, Say…”
“Yuuk…” Aku iyahkan ajakan Yolanda makan somay depan sekolah. Karena sudah cukup lapar juga. “Heh … ini APAA??!!”
“A…ah… i..ini…”
“AYOO surat dari sapa neh??!!” dengan mata melotot Yolanda dengan cepat mengambil surat dari saku celanaku. Mampus. Aku kaget, bisa ketahuan neh baru saja mendapat surat dari cewe lain. Bisa didamprat abis-abisan tuh cewe.

“Oooh…surat dari Tuhan…” wajah Yolanda kembali tenang “Neh… simpan lagi…”

Fiuh… lega hatiku urung deh terjadi pertumpahan darah.

Sambil makan Yolanda ngerocos, dan cerita tanpa henti. Aku hanya mengangguk-angguk mendengarkan tapi pikiranku melayang, masih heran kenapa surat ini ada di sakuku. Dengan yakin aku selipkan kembali ke buku agama ditas. Definitely.

Penasaran, kuambil surat tersebut dan saat mau kubuka, Yolanda menarikku mengajak menemani dia ke perpustakaan. Mengadem, “…mumpung ada waktu 10 menit sebelum jam pelajaran berikut…” alasannya.

Aku pun lupa akan surat tersebut, terlena dengan komik yang kubaca.

Pukul 16.45
“Maam… Dino mau pergi ke mall ama Yoyo yah.”
“Okay, huney…hati-hati loh…”

Dengan sedikit keliling mall, sedikit makan, dan sedikit nonkrong di Starbuck. Trip ke mall diakhiri dengan duduk manis di dalam theater XXI. Seperti biasa.

“Say, aku pipis dulu yah.” Yolanda menyuruhku menunggu “Jangan kemana-mana loh, say!”

Sembari menunggu aku maen-maen dengan Blackberryku. Tiba-tiba ada yang mencolekku dari belakang. “Dek, ada yang jatuh.” Seorang bapa cukup berumur dengan senyum menyodorkan sebuah amplop surat. Oh my… ini kan surat dari Tuhan. Aku yakin kutinggalkan di kamar.

“E..eh.. ma..makasih Oom…” jawabku terbata-bata, shock.
“Napa dek? Ini bukan surat kepunyaanmu?”
“Oh..iya punya saya Oom.”
“Sepertinya ini surat sangat penting sampai kamu bawa kemana-mana, jangan sampai jatuh tercecer lagi yah.”

Kusambut surat itu dari tangan bapa tersebut. Dan bapa itu berlalu sambil tersenyum. Aku terdiam terpaku. Shock.

“HEEH…!!!” kejut Yolanda menepuk keras bahuku.

Kamfret! Kaget.

“Aduh sayaang kok muka kamu pucet getu seh.. aduh maaf yah sayang, kaget yah???!”
Yolanda berusaha menenangkan dengan mengusap-usap dadaku. Aku meminta waktu untuk duduk sebentar.

“…kamu marah yah, sayang? Aku kan cuman bercanda…”
“Ga papa kok… yuk…” Kugandeng tangan Yolanda menuju pintu masuk XXI.

Announcer sudah mengumumkan theater 5 sudah dibuka dan dimohon pemilik tiket segera memasuki ruangan.

Berasa yang terdengar dikupingku: “Perhatian… perhatian… kepada yang menerima surat dari Tuhan harap segera dibuka… Terima kasih!”

Pukul 22.00. Rumah. Waktunya tidur.

Lelahnya hari ini. Sepulang dari mengantar Yolanda aku bergegas mandi dan merebahkan badan ke kasur. Kusempati menonton TV, ngetwit dan membalas BBm dari temen-temenku. Akupun tertidur.

Dalam lelap, aku bermimpi berjalan sendiri di suatu taman, pohon-pohon rindang sekitarku dan tanaman dengan bunga berwarna-warni bermekaran. Langit sangat cerah. Kicau burung bersayut-sayutan dan bunyi Gemerisik air menambah kesan damai taman ini.
Ditengah taman mataku tertuju Sesosok Pria duduk di bangku, Dia melihatku, melambaikan tangan dan tersenyum ramah.

Dia mengampiriku dan memberi sebuah pelukan hangat, lalu mengajakku berjalan bersamaNya mengintari taman. Dia mengenalkan diriNya; Tuhan. Aku diam, menatap wajahnya dan bertanya: “Apakah Tuhan ini yang selama ini mengirim surat untukku?”

“Iya, anakKu.” Tuhan tersenyum ramah denganku.
“Ma..maaf aku be..belum sempat membaca suratnya…” Aku tertunduk malu.

“Tidak apa-apa.” Lagi-lagi Tuhan tersenyum dan mengusap kepalaku dengan perasaan sayang.

Aku pun terus berjalan disamping Tuhan dan mengobrol, entah telah berapa lama.

Berdekatan denganNya memberi damai dihati, aku selayaknya anakNya yang telah lama hilang dan kembali dan aku benar-benar merasakan kasih sayang seorang Bapa.

Waktu seperti cepat berlalu. Tuhan mengatakan aku harus kembali, dan memberiku sebuah buku. “Buku Kehidupan.” kataNya. “Ini sebagai pelengkap dari surat yang Kuberi sebelumnya.” Dia memelukku kembali. Hangat. Nyaman dan damai. Sungguh berat hati berpisah, tapi Dia memberikan janjiNya: “Jangan takut Aku akan datang kembali. Sering-sering bersapa denganKu yah.”

Aku terbangun. Ku ambil dan sedetik kemudian membaca isi surat yang telah lama aku acuhkan selama ini. Saat ku baca surat tersebut tak kuasa air mata mengalir membasahi pipi. Kubaca terus berulang-ulang. Perasaan haru, bahagia, bersyukur menjadi satu… Terpenuhi dahaga kerinduan selama ini yang aku cari-cari.

Tweeeet……!!! Clink! Clink! Weker dan Bbku bunyi berbarengan.

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan sukacita. Ku duduk di tepi kasur, mengawali hari ini dengan doa dan memanjatkan syukur padaNya. Aku tersenyum. Dan Dia tersenyum. =)

Hari-hari menjadi baru.
Karena ada Dia berjalan bersamaku.

by Irwin Permata

Iklan

Sisi Lain (disingkat Sisil)

CHAPTER ONE : MENGATUR JANJI

Ia melepaskan tekanan jemarinya pada tombol-tombol keyboard yang ada dihadapannya. Dengan seketika jari telunjuknya menekan tombol hitam. Ia mematikan komputer yang selama dua jam terakhir ia hadapi. Dengan cepat ransel yang tergeletak di atas sofa itu diambilnya. Keluar dari ruangan yang merangkap sebagai kantornya.

Ia diam sesaat sebelum memasuki lift, lalu melangkah pelan serasa takut ada orang lain yang mendengarnya. Lift itu meluncur. Ransel di pundaknya seperti beban yang berat baginya yang telah bekerja seharian. Dengan sedikit hentakan, pintu lift itu terbuka seakan menyuruhnya untuk segera keluar. Sambil mengamati orang-orang yang masih sibuk sendiri, ia memukul kecil bahunya yang lebar atletis. Saat ini ia hanya membayangkan tempat tidur yang empuk. Tanpa aktivitas lain yang mengganggu.

Meskipun umurnya telah cukup untuk berumah tangga, tapi ia masih saja tinggal sendiri. Ia tinggal di sebuah apartemen di kawasan elit. Andrie tergolong mempunyai wajah yang rupawan, disukai banyak teman wanitanya di tempat ia bekerja dan di sekitar tempat ia tinggal. Termasuk bos pimpinannya–seorang wanita yang agak genit. Ada saja tingkah bosnya itu yang membuat Andrie hampir tidak dapat menahan diri untuk melakukan pengunduran diri. Untungnya Andrie tidak perlu melakukan itu. Wanita itu telah dimutasikan. Beribu-ribu mil jauhnya. Sekarang perusahaan itu dipimpin oleh seorang lelaki–untungnya bukan orang yang menganut paham cinta sejenis.

Pagi itu Andrie bangun. Memaksakan keinginan matanya yang masih ngantuk, sehabis menonton pertandingan sepakbola–yang membosankan. Ia bergegas menyiapkan diri untuk bekerja. Andrie bekerja di perusahaan J&H Advetising yang bergerak di bidang industri periklanan. Andrie pernah memegang order dalam pendesainan reklame yang cukup mahal biayanya. Melebihi gaji Andrie selama setahun yang hanya cukup untuk membeli mobil Avanza terbaru. Tanpa kredit.

Ia menekan tombol penggerak radio mobilnya yang ia kendarai sendiri. Mobil berwarna biru itu melaju dengan cepat mengikuti laju mobil lainnya. Dengan alunan suara serak-serak Michael Bolton dari radio mobil, Andrie mengendurkan pegangannya pada kemudi. Tangannya digerak-gerakan karena dinginnya AC. Tapi ia tidak mematikannya. Mobil itu melewati pertokoan yang hanya tiga blok jaraknya dari tempat kerjanya. Ia berharap menemukan pencopet yang membawa dompetnya tepat di depan pertokoan. Tidak disangka ia terperanjat melihat seorang gadis yang rasanya pernah ia kenal. Gadis yang sama persis dengan gadis yang dulu pernah ia puja. Bibir Andrie merapat. Ia menjilati bibir bawahnya. Membasahi bibir bawahnya yang kering. Ia melepaskan kacamata hitamnya. Mencari tempat parkir terdekat. Merapatkan mobilnya di samping mobil-mobil lainnya, mengikuti perintah penjaga parkir. Ia teringat akan masa lalu. Ketika ia menyadari gadis itu–yang ia cintai–tidak akan bertemu kembali lagi. Hanya karena perbedaan tempat mereka kuliah. Andrie di London dan gadis itu di Perth. Andrie selalu ingin menghubungi-nya tapi kabarnya gadis itu telah pindah entah kemana. Andrie sebenarnya tak ingin berjauhan dengannya tapi saran orang tuanya tak dapat ia tolak. Ia memutuskan bagaimanapun juga ia harus menemuinya dan mengucapkan cintanya yang terpendam selama beberapa tahun ini.

Andrie mengikuti langkah gadis itu. Ia menenangkan perasaan sembari menunggu saat yang tepat untuk menegur gadis berpita rambut merah, di sudut pertokoan, memandangi pernak-pernik perhiasan dari estalase. Gadis itu cerita mengenai mamanya yang selalu mengikatkan pita rambutnya, jika akan pergi ke sekolah. Andrie tak habis pikir, ia tetap selalu memakai pita. Tetap manis.

Setelah merasa puas melihat-lihat, gadis itu berputar sedemikian rupa sehingga ia bertatapan dengan Andrie. Andrie yang dipergoki sedang menatapnya, tersenyum canggung–entah mau berbuat apa. Ia tidak siap menerima tatapan mata itu. Terasa membuat pikiran Andrie melayang. Senang atau mau pingsan.

“Halo, Julia kan ini?” Andrie mengucapkan dengan suara dikecilkan. Menatap mata, hidung, bibir.

“Ya, benar. Eh…” Julia terkejut akan sapaan dari seorang pria memakai pakaian hitam, bercelana jeans. Memperhatikan dengan saksama.

“Lama tak ketemu, Jul. Ak… Aku.” Andrie sulit membuka mulutnya. Ia memandang tegun pada Julia yang tak berubah walau telah sekian tahun ia tak bertemu.

“Aku apa?” sambil menatap Andrie yang kupingnya merah–bila ia malu.

“Aku… mau bilang. Eh… eeh… Oh itu kamu tetap cantik, Jul.”

Julia menggelangkan kepala, tersenyum men-dengar pujian itu, lalu menatap Andrie. Andrie ingat kebiasaan lama itu, ia selalu begitu bila ada sesuatu yang menurutnya menggelikan atau memalukan. Julia tidak berubah.

Memang tidak berubah sama sekali. hanyalah semakin manis saja. Mereka saling menanyakan kabar masing-masing. Berbasa-basi, menceritakan segala hal, yang bagi mereka juga mem-bingungkan. Percakapan itu terhenti. Terdengar suara handphone Andrie memanggil. Tanda boss memanggil. Andrie berlalu minta permisi, seiring dengan dipandanginya jalan Julia yang cukup indah, layaknya seorang peragawati yang berjalan di catwalk. Ia hanya tersenyum, ketika angin nakal meniupkan rok Julia. Dasar.

Ditimang-timangnya gagang telepon itu, dile-takannya, diangkatnya kembali. Selama beberapa menit Andrie hanya mengulang-ulang pekerjaan itu.

Diletakkanya gelas itu, yang telah habis ia minum. Biasanya setiap malam ia suka minum jus tomat yang ia blender sendiri. Tapi malam ini ia menghabiskan dua gelas susu. Perutnya terasa mual. Ditekannya nomor-nomor yang menyam-bungkannya ke kediaman Julia. Andrie yang meminta nomor telepon Julia saat mereka akan berpisah–tadi siang. Andrie bertanya bagaimana cara menghubungi dirinya.

“Halo. Ini Andrie…“ Andrie belum menyelesai-kannya.

“Oh, Andrie.” Terdengar suara yang lembut. Suara yang Andrie selalu dengar kala itu. Andrie selalu menelepon Julia saat-saat ia ingin mendengarkan suaranya. Selalu saja ada hal-hal yang lucu bila ia mendengarkan Julia bicara.

“Halo… halo… Andrie kau masih di situ?” Tak sadar Andrie melamun. Tersenyum-senyum sendiri.

“Sorry. Tentunya aku masih di sini.” Andrie tertawa menghilangkan kekakuan dirinya. Tapi Julia hanya mengikuti tawa Andrie dengan pelan.

“Bagaimana pekerjaanmu. Baik-baik saja-kah?”

Cukuplah membuatku senang. Aku senang kita dapat berbicara lagi. Pertemuan tadi seperti suatu mukjizat bagiku.” Andrie melentangkan tubuhnya di sofa. Melipat kakinya. Menyibakkan rambutnya ke belakang, hanya sesaat lalu turun lagi. Rambut hitam itu tertiup angin malam yang masuk dari balkon.

Julia mengecilkan suara TV di hadapannya. Melihat jam tangannya. Memandang sekeliling rumahnya. Tampak ada kegelisahan di raut mukanya.

“Andrie bisakah kita berhenti dulu?”

“Maksud kamu teleponnya…”

“Iya.” Masih dengan suara pelan.

“Tapi maukah kamu menemui nanti siang?”

“Tapi Andrie…”

“Ayolah, masih banyak yang kuingin bicarakan padamu. Tempatnya di restoran di samping tempat kita bertemu kemarin. sehabis anak sekolah pulang–pukul satu siang. Oke?”

“Okelah.” Andrie tidak merasakan getaran suara Julia.

“Air putihnya saja dulu.”

Pelayan itu memainkan jarinya memanggil pelayan satu lagi untuk mengambil air putih. Pelayan itu segera membawakan segelas air, lalu menuju ke tempat lain, mengantarkan pesanan lainnya.

Andrie membuka-buka lembar perlembar halaman koran, tidak ada satu pun berita yang ia baca dengan sungguh-sungguh. Matanya melirik ke jam tangan–penunjuk waktu yang kecepatan lima menit. Andrie melihat yang ia tunggu sedang menghampirinya. Ia berusaha bersikap tenang.

“Hai, Andrie. Maaf saya agak terlambat.”

“Nggak apa-apa.” Andrie berdiri menyambut, dan duduk kembali. Mereka bertukar pandang seolah-olah mereka anak remaja baru kencan pertama kali, dan takut saling menatap.

Waktu pun yang menuntun mereka untuk pulang. Julia ingin pulang sendiri, tanpa dapat dipaksa oleh Andrie. Mereka berjanji akan keluar bersama lagi.

Pintu depan rumah terbuka setengah. Malingkah ini? Tapi apakah ada maling disiang bolong. Julia berjalan mengendap-ngendap. Melihat sekeliling sudut rumah, tapi hanyalah ada punggung laki-laki yang tidak membuatnya takut. Ketika laki-laki itu tahu Julia mengawasinya, ia memutarkan kursinya.

“Darimana saja kau.”

“Saya tadi ke rumah Karen. Kasihan ia sendirian. Menyuruh untuk datang.”

“Bohong. Aku lihat kau bersama seorang pria. Iyakan, kamu bersamanya?” Laki-laki itu berdiri, tangannya bergemetar hebat. Serasa ingin me-ngempaskan segala isi rumah. “Mengapa diam. Jawab. Jawablah…”

Julia menundukkan kepalanya. Takut membalas tatapan laki-laki itu.

“Tidak. Aku tidak bohong.” Julia tahu itu tidak benar. Ia tidak sanggup mengakui yang sebenarnya. Ia tidak dapat mengakuinya.

“Aku mendengar suara laki-laki itu menele-ponmu. Kamu tetap tidak mengakuinya. Aku lihat kalian makan bersama. Apakah itu tidak menya-kitkanku?” Tangannya mencengkram lengan Julia dengan kuat. Meronta-ronta untuk melepaskannya, tapi hanya pekerjaan sia-sia.

“Lepaskan tanganmu. Aku akan mengakuinya segala. Aku memang bicara padanya. Makan bersama. Tapi itu hanya…” Seketika tangan besar itu tepat melayang ke pipi Julia. Menetes setitik darah segar dari bibir itu.

“Baik, bila itu keputusanmu aku akan pergi dari rumah ini.” Dibasuh pipinya. Terasa sakit.

Cengkraman tangan itu mulai mengendur. Laki-laki itu menatap Julia dengan perasaan bersalah. Mencoba meraih pipi Julia, tapi ditepis.

“Semua sudah berakhir, aku tak tahan lagi hidup bersamamu.” Julia berlari keluar dari rumah itu. Tanpa membawa bekal apapun.

Suasana kembali sunyi, hanya terdengar isak tangis laki-laki itu. Menyesali apa telah yang ia lakukan.

Terdengar suara ketukan pintu. Andrie yang membuka satu-persatu kunci pintunya. Bila dihitung ada 6 kunci yang harus dibuka-sungguh paranoid.

“Oh, Julia…” Andrie tak percaya yang ada dihadapannya.

“Maaf, Andrie. Boleh saya masuk.”

“Tentu, tentu saja.” Andrie melihat luka dibibir Julia. Sebelum Andrie menanyakan perihal itu, Julia terjatuh, kakinya tak kuasa lagi menahan beban tubuhnya, dengan sigap Andrie menangkap tubuh mungil itu, lalu menaruhnya di sofa.

“Pagi yang indah, begitukan Kapten Sobar?”

“Ya.” Laki-laki itu menganggukan kepalanya, seraya menatap kelangit dengan pandangan kosong. Diliriknya co-pilot disebelahnya, dan matanya kembali memandang lurus kedepan.

“Kita siap landing Kapten.”

“Oke, Tom.” Dipandangnya foto yang dihadapannya. foto sebuah pasangan suami-istri yang begitu kelihatan bahagia-yang kini baginya tinggal kenangan. Biasanya ia tak pernah meletakkan sebuah foto pun didepan-antara-kemudi, tapi hari ini ia telah merencanakan sesuatu. Sesuatu yang mengerikan.

“Roda kemudi telah diangkat. Kepada menara pengawas kami minta doa restu untuk meninggalkan Anda.” Co-pilot itu tertawa, ia merasa telah membuat suatu lelucon. James tak menggubris teman disebelahnya. Tom tak menyadari bahwa leluconnya bisa menjadi kenyataan. Kenyataan yang tak terduga.

Diambilnya koran dari kotak surat, dibacanya sekilas. Pejabat korupsi, perampokan dan berita lainnya. Berita yang biasa baginya, malah menjemukan. Hidup di apartemen lain dengan hidup di rumah pribadi, pengantar koran enggan untuk mengantarkan korannya dengan naik-turun apartemen. Tapi itu sudah konsekuen yang harus diambil Andrie pertama kali mengambil keputusan untuk tinggal di aparteman.

Diletaknya koran itu dimeja, tidak sedikit pun keinginannya untuk membuka dan membacanya. Ia lebih memilih menonton kartun di TV. Tanpa melepas pandangannya dari TV ia bergerak mengambil segelas cangkir kopi panas. Sedikit tersenyum. Geli dengan cerita kartun tersebut. Cukuplah untuk menghilangkan kepenatan. Andrie tak mau untuk ketawa keras-keras-walaupun itu sudah kebiasannya bila menonton sesuatu yang lucu. Ia membuka pintu kamar tidurnya. Julia masih terbaring di tempat tidur. Andrie tak tega untuk membangunkannya. Sejak malam Andrie tidur di sofa ditemaninya dengan satu selimut hangat. Sedangkan Julia diletakkannya di tempat tidurnya. Dipandanginya Julia, dan menutup pintu itu kembali pelahan-lahan.

Sesungguhnya Andrie tidak tahu, bila Julia telah bersuami. Cincin melingkar dijari manis Julia memberitahunya. Andrie benar-benar terkejut. Andrie juga pernah beberapa kalimengikat hubungan dengan wanita lain. Meski hubungan itu kebanyakkan tak berlangsung lama.

Di ketinggian mencapai 5000 mil dari bumi, sebuah pesawat mengudara, dengan pilot Barry Sobar dan co-pilot Tommy Suryono. Dengan tujuan Jakarta-Dubai. Cuaca cerah, diiringin angin yang cukup dingin.

“Sobar, apakah kamu sakit? Wajahmu begitu pucatnya.” Tom merasa khawatir dengan keadaan Barry.

“tidak apa-apa…,” jawab Barry, masih menatap erat foto ia bersama istrinya. Yang menurut itu sudah berakhir. Ia merasa tugas sebagai suaminya sangatlah mengecewakan. Tak ada lagi harus ia perbuat, hanyalah mati. Mati…

“Maaf, kapten. Saya sebagai co-pilot, menyarankan kapten untuk istirahat seje…” Tapi kapten Barry dengan cepat meraih tangan Tom.

“Saya tidak apa-apa hanya sedikit pusing. Tolong ambilkan sebutir aspirin.”

“Baiklah, kapten. Pesawat kita pasangkan kemudi otomatis terlebih dahulu.” Tom segera menekan tombol-tombol-yang ia hapal luar kepala. Sesudah co-pilot itu keluar dari ruangan kabin. Dengan cepat Barry mengunci. Dia kembali duduk. Dan menangis. Foto itu telah basah dan lecek. Terkena air matanya yang tak tertahankan. Deras semakin deras. Kepedihan begitu dalam ia rasakan.

Terdengar suara-suara co-pilotnya memanggil-manggil namanya-agar dibukakan pintu. Tetap tak digubrisnya. Ia larut dalam kesedihan. Dihapusnya air mata dipipinya. Terdiam, menundukan kepala. Lalu ia siap. Siap untuk kematiannya…

Pesawat itu semakin menukik dengan cepat. Para awak pesawat beserta penumpang berteriak histeris. Kemalangan bagi mereka. 5000 M…. 950 M… 700 M… 100 M dan ledakan tak terelakan lagi. Pesawat itu hancur berkeping-keping. Dapat dikatakan tak ada yang dapat selamat!

-End?? ato Continued….???- Bodo ah hahahahhahhaa

Mendung Bukan Berarti Hujan

Yakin telah sampai tempat pemberhentian yang seharusnya. Ia menekan tombol bel-yang telah lama diperhatikan-di atas kepalanya. Dirogoh saku celana mengambil uang recehan dua ribu rupiah dan segera membayarkan ongkos bisnya.

Ia menyeberang dengan hati-hati, mengikuti siswa-siswa lain yang sama dengannya. Kepalanya ditundukkan. Menahan rasa ngantuk. Malu menguap. Ia melangkah dengan kadang-kadang diperlambat dan kadang-kadang dipercepat. Sesuai yang ia mau. Sesampai di gerbang sekolah. Hanya satu yang Ia pikirkan: meminjam pekerjaan teman, dan menyalinnya dibuku tugas. Dinaikinya anak tangga itu satu demi satu. Dengan kepala tertunduk; lesu, ngantuk. Dilihatnya David, tegak di depan pintu kelas, “Pagi. Susan sudah datang belum?”

“Cowo Susan suka datang ke kelas?”

“Biasanya,” kata David singkat. Tidak seperti biasa.

“Biasanya…. Biasa bagaimana?”

Saat melihat-lihat sekeliling kelas. Matanya menemukan seorang perempuan. Duduk. “Pa-gi, Susan,” sapanya canggung, “Kamu dengar pembicaraan kami tadi?”

“Bukan saya yang mulai. Dia yang mulai.” Ia menunjuk ke arah David. Pergi meninggalkan diri mereka.

Susan mengeluarkan senyuman tipisnya. Sangat tipis. Dan meneruskan perkerjaannya: menyalin tugas.

“Mengerjakan tugas apa?”

“Tugas Matematika.” Senyumnya mekar. Dan tetap tipis.

Dennis memperhatikan wajah manis dihadapannya. Menunduk. Seperti sang putri. Sungguh sejuk. Indah. Diperhatikannya dengan seksama. Menggairahkan. Gerak matanya, terpusat jernih pada gerak tangan. Halus. Ingin ia rasakan kehalusannya. Dennis tetap menatap bisu. “Ada yang salah?” ucapan Susan membuyarkan lamunannya

“’Dia’ sebentar lagi menemui kamu?”

“Tidak.” Senyumnya kembali tipis.

“Mengapa? Apakah dia belum datang?”

“Tidak….” Ia tersenyum. “Tidak tahu, ya.”

Dennis merasakan ada yang tidak beres dengan mereka. Senyum tipisnya mungkin dapat menutupi kesedihan. Kesepiannya. Tapi matanya, tidak. “Boleh saya duduk di sampingmu?”

“Silakan.” Tetap dibarengi senyum itu.

Didorong tubuhnya. Ransel tetap dipundak. Tidak dilepas. Duduk bersebelahan dengannya; bila ini mimpi. Ia tak mau bangun. Tak mau hanya sekejap. Diliriknya perempuan itu. Indah. Dan sangat indah. Gerakan matanya. Lembut. Tatapan penuh kesejukan, penuh kasih sayang.

“Apakah ‘dia’ akan datang?” tanyanya masih ragu-ragu.

Kepalanya mendongah, “Tidak. Dan semoga tidak.”

“Ada masalahkah diantara kalian?” tanyanya hati-hati. Memenuhi keingintahuannya.

“Ya…. Kami baru saja putus….”

Matanya menatap polos.

“Putus… Sorry. Saya tidak bermaksud….” Ia tak meneruskan. Ditatapnya wajah itu. Apakah ini suatu kesempatan. Tapi, mengapa bisa putus. Bukankah ia yang suka. Apakah yang salah? “Maaf sekali lagi. Bisakah saya tahu siapa yang mengambil keputusan ini?” tanyanya. Ia ingin tahu lebih banyak lagi.

“Bisa dikatakan kami sama-sama setuju.”

Dilihatnya ada peluang kembali untuk dirinya, “Susan, bisakah saya menemuimu di depan kelas ini sewaktu jam istirahat-sendirian.”

“Mungkin bisa. Lihatlah nanti.” Suatu ja-waban yang tidak pasti. Tapi. Satu senyuman kembali terlihat dibibirnya. Sama-sama tipis. Senyuman misterius. Iyahan atau lirih?

Buku itu diletakannya begitu saja. Waktu istirahat telah tiba. Dennis segera keluar dari kelas. Ada janji yang harus dipenuhi.

“Hai, saya kira kamu tidak akan mau menerimaku.”

“Tidak sulitkan?” ucapnya dengan diiringi senyum yang manis itu.

“Adakah kata yang tepat untukku?”

“Kata…? Hanya kamu yang tahu.”

“Bila… menurutmu,” ujarnya menahan nafas dulu, “mungkinkah diriku bisa bersamamu.”

Susan tersenyum dan lalu berkata, “Bisa. Itu bisa. Apabila kamu menginginkannya…”

Senyum itu kembali merekah, bukan satu tapi dua. Menyambut apa yang semestinya.

—End—

Malam Tak Berangin

Malam tak berangin. Karena siang turun hujan cukup lama. Saat lagi menatap bintang-bintang, bunyi dering telepon. Iren menerima telepon itu, tidak seperti yang diduga, bukanlah orang yang Iren kira. Jam-jam seperti ini, kalau bukan dari mama yang suka menanyakan ‘gimana kuliahnya, sayang’ atau ‘uang sakunya masih ada nggak?’ kalau dibilang udah habis, ‘coba cek deh ATM, nanti mama tambahi’ yah bisa lima bahkan sepuluh juta, beda dengan papa selalu aja menanyakan masalah keadaan Indonesia, emang papaku pengusaha yang cukup sibuk, selalu aja mainannya keluar, ke Hongkonglah, Jerman, China dan lain-lainlah, pokoknya satu bulan tuh ada aja papa meninggalkan mama, untunglah mamaku udah biasa, sejak kecil mamaku udah hidup berdua aja sama kakekku, karena nenek dulu meninggal sewaktu mau melahirkan mama. Mama emang wanita yang tegar, mama dan papa adalah idolaku. Papaku sekarang ada di negara yang kata papaku mendapat julukan negeri dongeng, yah papa melakukan bisnis dengan teman-teman papa di Denmark. Papa udah janji mau bawa oleh-oleh boneka, Iren emang suka sama boneka, habis lucu sih! Kamar Iren penuh dengan boneka-boneka, coba deh kapan-kapan main tempat Iren. Boneka-boneka koleksi Iren semua ada nilai historisnya, boneka bikinan mama masih Iren simpan, Iren waktu itu masih umur lima tahun, mama membikinnya khusus untuk ultah Iren, mamaku orangnya baik ya! Ada satu boneka yang kalau mau pergi-pergi jauh selalu Iren ajak, boneka itu pemberian cowok Iren, Iren sayang banget sama boneka itu, dan… tentunya sama cowok Iren juga dong! Nah, Iren kira yang nelepon itu cowok Iren, eh taunya si David. David tuh temenku satu kampus, ia satu tingkat dia atas Iren. Iren sebelum sama cowok Iren, dulunya suka sama David. Dan kalau ditanya ‘kok malah jadian sama yang sekarang?’, bukannya Iren bertepuk sebelah tangan, David juga suka kok sama Iren, kami dulu sering telepon-teleponnya, yah kadang hari ini si david besok gilirin Iren, saling gantian gitu. David juga suka ke rumah Iren, hanya sekadar mau ngajak ngobrol atau kadang Iren suka nyuruh David merapiin boneka-boneka Iren. Iren tinggal hanya bertiga sama pengasuh Iren, jadi cukup kesepian, mama dan papa aslinya orang Jakarta, Iren pertamanya disuruh sekolah di Jakarta aja biar deket ama mama dan papa, tapi Iren udah bosen dengan kota Jakarta penuh polusi, penuh dengan kemacetan, pokoknya tidak menarik lagi bagi Iren. Mama dan Papa suka juga kok menjenguk Iren. Waktu itulah Iren perlu orang seperti David yang mau menemani Iren kala butuh temen bicara. David orangnya cukup pengertian sama Iren. Dan juga sabar banget, itu emang harus ada karena Iren orangnya manja. David juga suka ngajak Iren jalan-jalan, ke mal hanya cari angin sambil ngobrol-ngobrol, yang Iren suka sama David tuh orangnya kocak banget, punya sense of humor, Iren suka ketawa kalau jalan berdua sama David. Kami juga suka nonton bareng, ke café bareng, pokoknya serba bareng. Nah, kalau kami begitu cocok dan serasinya, itu seperti temen-temen Iren bilang, kok nggak jadian aja? Karena Iren nggak sama agamanya dengan David. Kami sama-sama takut untuk memulai, saat Iren merasakan cintanya David, David sepertinya mulai menghindar dari Iren… Makin lama perasaan cinta Iren terhapus dengan waktu, tapi masih ada rasa sayang sih. “Hi, ren. Pa kabar?” “Baek. Kamu kemana aja sih? Kok baru sekarang telepon?” tanpa sadar manja Iren muncul deh. “Iya, maaf yah aku pikir kamu gak mau bertemu lagi” “Kok kamu berpikir gitu sih?! Kamu gak tau… I…Ir…Iren kangen ama David!” Air mata Iren pun tak tertahan lagi menetes. Bercampur perasaan benci, kangen, senang, dan godok menjadi satu. Ihik..ihik…bingung jadinya.

-End- hohohohoho ;p

mmm..cerita ini ga mungkin g lanjutin deh..kagak ada feel lg bwt nulisnya hehehhe….