Pak Aris


Pak Aris yang saya kenal – pertama kali saya ngekos di daerah Grogol, Jakarta Barat – seorang pemilik warung dipengkolan gang disekitar kos saya tempati. Tahun 2000 awal saya mulai kos di Grogol, tepatnya di jalan Muwardi, belakang terminal Grogol atau seberang kampus Trisakti. Dan disitulah perkenalan saya dengan Pak Aris, tentunya karena saya sebagai anak kos yang baru menetap di Jakarta, dengan status mahasiswa dan juga menyambi kerja yang uang pas-pasan, warung Pak Aris sangat membantu dalam menganjel perut. Bisa beli indomie 1 bungkus saja tanpa malu dibanding ke supermarket atau indomaret saat itu. Itupun kita bisa pake uang recehan koin. Atau membeli 1 gorengan dan 1 sachet kopi susu. Jadi bagi saya dan anak kos lainnya warung seperti kepunyaan Pak Aris sangatlah menolong.

Pak Aris sesosok orang yang sangat ramah, orangnya tidak macam-macam, suka mengajak ngobrol dan selalu menyapa orang-orang yang lewat depan warungnya.

Warung Pak Aris, tepatnya kios gerobak, juga tempat dia tidur dimalam hari. Dan karena sudah cukup lama berjualan di sekitar komplek situ, ada warga yang baik hati – bernama Pak Eka – untuk membuat kan canopy diatas warung Pak Aris. Sehingga makin banyak orang yang duduk-duduk sekedar ngobrol sambil mengopi dan membeli gorengan di warung Pak Aris. Dan sampai Pak Aris juga sempet diangkat penjaga malam untuk sekitar jalan Muwardi tersebut, ada warga juga memberi TV untuk hiburan.

Sekitar tahun 2007 saya pindah kos, walau tetap didaerah Muwardi, Grogol, tapi beda jalan dengan warung Pak Aris. Dan sejak pindah kos tersebut saya tidak pernah lagi melewati dan bertegur sapa dengan Pak Aris, sampai pagi ini (26 September 2011), saat saya mengendarai motor menuju kantor, sangat terkejut melihat Pak Aris menarik-narik gerobak pemulung mengumpulkan plastik-plastik disekitar daerah Muwardi.

Apa yang terjadi dengan Pak Aris? Apa warungnya sudah tidak ada lagi?

…………

Bertahun-tahun kita sibuk bekerja mengumpulkan duit, bersibuk-ria dengan ambisi dan keinginan ini dan  keinginan itu yang mau dipenuhi, sampai kita lupa banyak orang sekitar kita – yang tidak seberuntung kita – yang hidup mereka bertahun-tahun begitu-gitu saja, bahkan ekonominya makin menderita, seperti Pak Aris…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s