Wayne’s Love & Passion Part 5


Malam itu Wayne, bawaanya romantis aja. Terpasang pas photo Susi super besar 2 x 3 meter, menggantikan poster si Pamela. Bosen!

Disekelilingi bingkai photo itu dirangkaikan dengan bunga-bunga yang Wayne petik di halaman rumah. Di bawah photo, diberi candle-candle berwarna merah, kemenyan, rerumputan. Pokoknya romantis habis! Mau tau kenapa si Wayne bertingkah romantis. Karena Wayne baru saja nelepon Susi untuk yang pertama kalinya. Ngobrolnya sih lama, tapi pakai telepati! Wayne gembira banget. Mami Wayne aja bingung ngelihatin anaknya, senyam-senyum sendiri ditelepon nggak mengeluarkan kata sedikit pun. Susi mau memutuskan pembicaraan rada-rada nggak tega. Karena kebo-senan bersemedi, Susi manggil gukguknya.

“Guk, gantiin gue, yah, ngobrol ama temen gue!” Si gukguk maen samber aja tuh telepon. Kapan lagi nih maen-maen telepon, pikir si gukguk. Si gukguk mengendus-ngendus, wah Susi kagak sabaran mau mencium gue nih, Wayne kegirangan. Si gukguk nih ikut-ikutan sebal juga, dipanggilnya si tikus yang lagi sibuk nggrogotin ekornya.

“Kus, sini loe. Gantiin,” kata gukguk. Tikus ditelepon bercit-cit. Susi, bisa ngomong jorok juga yah, tebak Wayne. Begitulah seterusnya sampai listrik mati. Wayne baru meletakkan gagang telepon itu kejidatnya Nyunyun. “Nyun, ngapa listriknya dimatikan.” Nyunyun ketauan yang matiin listrik. Di rumah Susi sih udah kayak kebun bintang, segala binatang numpek ke sono.

Oh, Chuchi, engkau permata sariku,

Engkau mata hatiku,

Aku tidak dapat hidup tanpa chuchumu.

Wayne menulis puisi yang didiktekan oleh Nyunyun. Nyunyun terpaksa mau menolong Wayne akibat peristiwa jengkol pedes tadi siang. Kamar Wayne penuh dengan puisi-puisi just for Susi. Nggak ku-ku!

“Wayne, udah yah? Nyunyun capek nih.”  Nyunyun menguap kenceng-kenceng.

“Nggak bisa! Jengkol gue udah melayang. Emangnya loe mau Wayne makan, menggantiin tuh jengkol?”

“Oohh, tentu mau tuh Wayne!” ujar Nyunyun langsung menghangatkan ‘makanan’ yang diminta Wayne itu.

“Apa-apaan sih kamu, cepet turun!” Wayne kebelingsatan.

“Katanya Nyun mau disantap oleh Wayne. Yah, Nyun siap-siap.”

“Cepetan, masih seribu puisi lagi yang harus diselesaikan.” Wayne mencoba ganti topik pembicaraan.

Susi satu kelas dengan Wayne, yang menurut Nyunyun nggak jelek-jelek amat, masih jelekkan Nyunyun kok! Sesuai isi diarynya Wayne:

Susi, dengan nama lengkap Susi Skulisilawati adalah cewek gampangan, dalam arti… gampang tidur, gampang makan. Yang Wayne sukai dari Susi, adalah… apa yah… yang Wayne suka dari Susi adalah…… Oh, itu gukguknya (maklum aja Wayne lagi nyimeng saat menulis diary ini).

“Ada Susi berarti ada susu,” kata Wayne suatu saat.

“Wayne suka sekali, maniiis dech, kayak… Nyunyun.” Jelas-jelas, nih anak masih mabuk. Wayne ngebet banget sama Susi tapi takut mendekati, boro-boro ngajak ngobrol, berpapasan di jalan aja lari terbirit-birit. Waktu anak-anak ber-F1 maniacs, Wayne malah SUSI-maniacs. Kemana-mana minum susu (boleh minta susunya si Bicek). Pernah waktu JJM (jalan-jalan ke Jurang lho!) Wayne dicegat oleh satpam. Habis itu Wayne kapok maling mainan. (nah lho?! Apa hubungannya?!) Waktu Wayne dengar kalo si Susi suka ama sohun. Wayne minta dibeliin se-kontainer sohun dari Jepang. Papi Wayne yang kalang kabut. (Sohun: sejenis mie yg dipotong-potong kecil).

“Bawanya gimana???” Papi hanya bengong aja mendengar permintaan Wayne itu.

“Sohun itu mau Wayne hadiahkan untuk ultahnya Susi yang ke-16 abad, eh, tahun.”

Karena sulit untuk memenuhi permintaan Wayne, Papi memberikan alternatif lain.

“Wayne, kalo cewek tuh orangnya suka yang sensitif-sensitif. Wayne kasih aja apel, coklat apa bunga?” kata Papi kepada Mami.

Yah, akhirnya Wayne mau mengikuti perkataan Mami. Nggak ngasih apa-apa.

Wayne membuka catatan diary-nya dan menulis kejadian yang menurut Wayne ‘kejadian terindah abad ini’.

Pukul 15.45, hari Kamis, gue menelepon pujaan hati gue, Susanto…eh…Susi. Ia tersipu malu saat kubilang ia kiyut, ia mulai mengendus kala kukatakan matanya seperti buah belimbing.

Diaryku… kami mengobrol lama sekali, apa saja yang kami bicarakan, tentang kamu, tentang nama anak kami nanti, oh…dia ingin nama anak pertama kami si meong, yang …blablabla…

Malam itu malam yang sangat romantis bagi Wayne. Mengalun lagu Ingat Kamu miliknya Duo Maia dari tape mobil. “Lagu yang romantis,” kata Wayne sambil menyanyikan syair lagu tersebut dengan teriak-teriak.

\\\ makin lama makin norakk…. great work! 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s