Sisi Lain (disingkat Sisil)


CHAPTER ONE : MENGATUR JANJI

Ia melepaskan tekanan jemarinya pada tombol-tombol keyboard yang ada dihadapannya. Dengan seketika jari telunjuknya menekan tombol hitam. Ia mematikan komputer yang selama dua jam terakhir ia hadapi. Dengan cepat ransel yang tergeletak di atas sofa itu diambilnya. Keluar dari ruangan yang merangkap sebagai kantornya.

Ia diam sesaat sebelum memasuki lift, lalu melangkah pelan serasa takut ada orang lain yang mendengarnya. Lift itu meluncur. Ransel di pundaknya seperti beban yang berat baginya yang telah bekerja seharian. Dengan sedikit hentakan, pintu lift itu terbuka seakan menyuruhnya untuk segera keluar. Sambil mengamati orang-orang yang masih sibuk sendiri, ia memukul kecil bahunya yang lebar atletis. Saat ini ia hanya membayangkan tempat tidur yang empuk. Tanpa aktivitas lain yang mengganggu.

Meskipun umurnya telah cukup untuk berumah tangga, tapi ia masih saja tinggal sendiri. Ia tinggal di sebuah apartemen di kawasan elit. Andrie tergolong mempunyai wajah yang rupawan, disukai banyak teman wanitanya di tempat ia bekerja dan di sekitar tempat ia tinggal. Termasuk bos pimpinannya–seorang wanita yang agak genit. Ada saja tingkah bosnya itu yang membuat Andrie hampir tidak dapat menahan diri untuk melakukan pengunduran diri. Untungnya Andrie tidak perlu melakukan itu. Wanita itu telah dimutasikan. Beribu-ribu mil jauhnya. Sekarang perusahaan itu dipimpin oleh seorang lelaki–untungnya bukan orang yang menganut paham cinta sejenis.

Pagi itu Andrie bangun. Memaksakan keinginan matanya yang masih ngantuk, sehabis menonton pertandingan sepakbola–yang membosankan. Ia bergegas menyiapkan diri untuk bekerja. Andrie bekerja di perusahaan J&H Advetising yang bergerak di bidang industri periklanan. Andrie pernah memegang order dalam pendesainan reklame yang cukup mahal biayanya. Melebihi gaji Andrie selama setahun yang hanya cukup untuk membeli mobil Avanza terbaru. Tanpa kredit.

Ia menekan tombol penggerak radio mobilnya yang ia kendarai sendiri. Mobil berwarna biru itu melaju dengan cepat mengikuti laju mobil lainnya. Dengan alunan suara serak-serak Michael Bolton dari radio mobil, Andrie mengendurkan pegangannya pada kemudi. Tangannya digerak-gerakan karena dinginnya AC. Tapi ia tidak mematikannya. Mobil itu melewati pertokoan yang hanya tiga blok jaraknya dari tempat kerjanya. Ia berharap menemukan pencopet yang membawa dompetnya tepat di depan pertokoan. Tidak disangka ia terperanjat melihat seorang gadis yang rasanya pernah ia kenal. Gadis yang sama persis dengan gadis yang dulu pernah ia puja. Bibir Andrie merapat. Ia menjilati bibir bawahnya. Membasahi bibir bawahnya yang kering. Ia melepaskan kacamata hitamnya. Mencari tempat parkir terdekat. Merapatkan mobilnya di samping mobil-mobil lainnya, mengikuti perintah penjaga parkir. Ia teringat akan masa lalu. Ketika ia menyadari gadis itu–yang ia cintai–tidak akan bertemu kembali lagi. Hanya karena perbedaan tempat mereka kuliah. Andrie di London dan gadis itu di Perth. Andrie selalu ingin menghubungi-nya tapi kabarnya gadis itu telah pindah entah kemana. Andrie sebenarnya tak ingin berjauhan dengannya tapi saran orang tuanya tak dapat ia tolak. Ia memutuskan bagaimanapun juga ia harus menemuinya dan mengucapkan cintanya yang terpendam selama beberapa tahun ini.

Andrie mengikuti langkah gadis itu. Ia menenangkan perasaan sembari menunggu saat yang tepat untuk menegur gadis berpita rambut merah, di sudut pertokoan, memandangi pernak-pernik perhiasan dari estalase. Gadis itu cerita mengenai mamanya yang selalu mengikatkan pita rambutnya, jika akan pergi ke sekolah. Andrie tak habis pikir, ia tetap selalu memakai pita. Tetap manis.

Setelah merasa puas melihat-lihat, gadis itu berputar sedemikian rupa sehingga ia bertatapan dengan Andrie. Andrie yang dipergoki sedang menatapnya, tersenyum canggung–entah mau berbuat apa. Ia tidak siap menerima tatapan mata itu. Terasa membuat pikiran Andrie melayang. Senang atau mau pingsan.

“Halo, Julia kan ini?” Andrie mengucapkan dengan suara dikecilkan. Menatap mata, hidung, bibir.

“Ya, benar. Eh…” Julia terkejut akan sapaan dari seorang pria memakai pakaian hitam, bercelana jeans. Memperhatikan dengan saksama.

“Lama tak ketemu, Jul. Ak… Aku.” Andrie sulit membuka mulutnya. Ia memandang tegun pada Julia yang tak berubah walau telah sekian tahun ia tak bertemu.

“Aku apa?” sambil menatap Andrie yang kupingnya merah–bila ia malu.

“Aku… mau bilang. Eh… eeh… Oh itu kamu tetap cantik, Jul.”

Julia menggelangkan kepala, tersenyum men-dengar pujian itu, lalu menatap Andrie. Andrie ingat kebiasaan lama itu, ia selalu begitu bila ada sesuatu yang menurutnya menggelikan atau memalukan. Julia tidak berubah.

Memang tidak berubah sama sekali. hanyalah semakin manis saja. Mereka saling menanyakan kabar masing-masing. Berbasa-basi, menceritakan segala hal, yang bagi mereka juga mem-bingungkan. Percakapan itu terhenti. Terdengar suara handphone Andrie memanggil. Tanda boss memanggil. Andrie berlalu minta permisi, seiring dengan dipandanginya jalan Julia yang cukup indah, layaknya seorang peragawati yang berjalan di catwalk. Ia hanya tersenyum, ketika angin nakal meniupkan rok Julia. Dasar.

Ditimang-timangnya gagang telepon itu, dile-takannya, diangkatnya kembali. Selama beberapa menit Andrie hanya mengulang-ulang pekerjaan itu.

Diletakkanya gelas itu, yang telah habis ia minum. Biasanya setiap malam ia suka minum jus tomat yang ia blender sendiri. Tapi malam ini ia menghabiskan dua gelas susu. Perutnya terasa mual. Ditekannya nomor-nomor yang menyam-bungkannya ke kediaman Julia. Andrie yang meminta nomor telepon Julia saat mereka akan berpisah–tadi siang. Andrie bertanya bagaimana cara menghubungi dirinya.

“Halo. Ini Andrie…“ Andrie belum menyelesai-kannya.

“Oh, Andrie.” Terdengar suara yang lembut. Suara yang Andrie selalu dengar kala itu. Andrie selalu menelepon Julia saat-saat ia ingin mendengarkan suaranya. Selalu saja ada hal-hal yang lucu bila ia mendengarkan Julia bicara.

“Halo… halo… Andrie kau masih di situ?” Tak sadar Andrie melamun. Tersenyum-senyum sendiri.

“Sorry. Tentunya aku masih di sini.” Andrie tertawa menghilangkan kekakuan dirinya. Tapi Julia hanya mengikuti tawa Andrie dengan pelan.

“Bagaimana pekerjaanmu. Baik-baik saja-kah?”

Cukuplah membuatku senang. Aku senang kita dapat berbicara lagi. Pertemuan tadi seperti suatu mukjizat bagiku.” Andrie melentangkan tubuhnya di sofa. Melipat kakinya. Menyibakkan rambutnya ke belakang, hanya sesaat lalu turun lagi. Rambut hitam itu tertiup angin malam yang masuk dari balkon.

Julia mengecilkan suara TV di hadapannya. Melihat jam tangannya. Memandang sekeliling rumahnya. Tampak ada kegelisahan di raut mukanya.

“Andrie bisakah kita berhenti dulu?”

“Maksud kamu teleponnya…”

“Iya.” Masih dengan suara pelan.

“Tapi maukah kamu menemui nanti siang?”

“Tapi Andrie…”

“Ayolah, masih banyak yang kuingin bicarakan padamu. Tempatnya di restoran di samping tempat kita bertemu kemarin. sehabis anak sekolah pulang–pukul satu siang. Oke?”

“Okelah.” Andrie tidak merasakan getaran suara Julia.

“Air putihnya saja dulu.”

Pelayan itu memainkan jarinya memanggil pelayan satu lagi untuk mengambil air putih. Pelayan itu segera membawakan segelas air, lalu menuju ke tempat lain, mengantarkan pesanan lainnya.

Andrie membuka-buka lembar perlembar halaman koran, tidak ada satu pun berita yang ia baca dengan sungguh-sungguh. Matanya melirik ke jam tangan–penunjuk waktu yang kecepatan lima menit. Andrie melihat yang ia tunggu sedang menghampirinya. Ia berusaha bersikap tenang.

“Hai, Andrie. Maaf saya agak terlambat.”

“Nggak apa-apa.” Andrie berdiri menyambut, dan duduk kembali. Mereka bertukar pandang seolah-olah mereka anak remaja baru kencan pertama kali, dan takut saling menatap.

Waktu pun yang menuntun mereka untuk pulang. Julia ingin pulang sendiri, tanpa dapat dipaksa oleh Andrie. Mereka berjanji akan keluar bersama lagi.

Pintu depan rumah terbuka setengah. Malingkah ini? Tapi apakah ada maling disiang bolong. Julia berjalan mengendap-ngendap. Melihat sekeliling sudut rumah, tapi hanyalah ada punggung laki-laki yang tidak membuatnya takut. Ketika laki-laki itu tahu Julia mengawasinya, ia memutarkan kursinya.

“Darimana saja kau.”

“Saya tadi ke rumah Karen. Kasihan ia sendirian. Menyuruh untuk datang.”

“Bohong. Aku lihat kau bersama seorang pria. Iyakan, kamu bersamanya?” Laki-laki itu berdiri, tangannya bergemetar hebat. Serasa ingin me-ngempaskan segala isi rumah. “Mengapa diam. Jawab. Jawablah…”

Julia menundukkan kepalanya. Takut membalas tatapan laki-laki itu.

“Tidak. Aku tidak bohong.” Julia tahu itu tidak benar. Ia tidak sanggup mengakui yang sebenarnya. Ia tidak dapat mengakuinya.

“Aku mendengar suara laki-laki itu menele-ponmu. Kamu tetap tidak mengakuinya. Aku lihat kalian makan bersama. Apakah itu tidak menya-kitkanku?” Tangannya mencengkram lengan Julia dengan kuat. Meronta-ronta untuk melepaskannya, tapi hanya pekerjaan sia-sia.

“Lepaskan tanganmu. Aku akan mengakuinya segala. Aku memang bicara padanya. Makan bersama. Tapi itu hanya…” Seketika tangan besar itu tepat melayang ke pipi Julia. Menetes setitik darah segar dari bibir itu.

“Baik, bila itu keputusanmu aku akan pergi dari rumah ini.” Dibasuh pipinya. Terasa sakit.

Cengkraman tangan itu mulai mengendur. Laki-laki itu menatap Julia dengan perasaan bersalah. Mencoba meraih pipi Julia, tapi ditepis.

“Semua sudah berakhir, aku tak tahan lagi hidup bersamamu.” Julia berlari keluar dari rumah itu. Tanpa membawa bekal apapun.

Suasana kembali sunyi, hanya terdengar isak tangis laki-laki itu. Menyesali apa telah yang ia lakukan.

Terdengar suara ketukan pintu. Andrie yang membuka satu-persatu kunci pintunya. Bila dihitung ada 6 kunci yang harus dibuka-sungguh paranoid.

“Oh, Julia…” Andrie tak percaya yang ada dihadapannya.

“Maaf, Andrie. Boleh saya masuk.”

“Tentu, tentu saja.” Andrie melihat luka dibibir Julia. Sebelum Andrie menanyakan perihal itu, Julia terjatuh, kakinya tak kuasa lagi menahan beban tubuhnya, dengan sigap Andrie menangkap tubuh mungil itu, lalu menaruhnya di sofa.

“Pagi yang indah, begitukan Kapten Sobar?”

“Ya.” Laki-laki itu menganggukan kepalanya, seraya menatap kelangit dengan pandangan kosong. Diliriknya co-pilot disebelahnya, dan matanya kembali memandang lurus kedepan.

“Kita siap landing Kapten.”

“Oke, Tom.” Dipandangnya foto yang dihadapannya. foto sebuah pasangan suami-istri yang begitu kelihatan bahagia-yang kini baginya tinggal kenangan. Biasanya ia tak pernah meletakkan sebuah foto pun didepan-antara-kemudi, tapi hari ini ia telah merencanakan sesuatu. Sesuatu yang mengerikan.

“Roda kemudi telah diangkat. Kepada menara pengawas kami minta doa restu untuk meninggalkan Anda.” Co-pilot itu tertawa, ia merasa telah membuat suatu lelucon. James tak menggubris teman disebelahnya. Tom tak menyadari bahwa leluconnya bisa menjadi kenyataan. Kenyataan yang tak terduga.

Diambilnya koran dari kotak surat, dibacanya sekilas. Pejabat korupsi, perampokan dan berita lainnya. Berita yang biasa baginya, malah menjemukan. Hidup di apartemen lain dengan hidup di rumah pribadi, pengantar koran enggan untuk mengantarkan korannya dengan naik-turun apartemen. Tapi itu sudah konsekuen yang harus diambil Andrie pertama kali mengambil keputusan untuk tinggal di aparteman.

Diletaknya koran itu dimeja, tidak sedikit pun keinginannya untuk membuka dan membacanya. Ia lebih memilih menonton kartun di TV. Tanpa melepas pandangannya dari TV ia bergerak mengambil segelas cangkir kopi panas. Sedikit tersenyum. Geli dengan cerita kartun tersebut. Cukuplah untuk menghilangkan kepenatan. Andrie tak mau untuk ketawa keras-keras-walaupun itu sudah kebiasannya bila menonton sesuatu yang lucu. Ia membuka pintu kamar tidurnya. Julia masih terbaring di tempat tidur. Andrie tak tega untuk membangunkannya. Sejak malam Andrie tidur di sofa ditemaninya dengan satu selimut hangat. Sedangkan Julia diletakkannya di tempat tidurnya. Dipandanginya Julia, dan menutup pintu itu kembali pelahan-lahan.

Sesungguhnya Andrie tidak tahu, bila Julia telah bersuami. Cincin melingkar dijari manis Julia memberitahunya. Andrie benar-benar terkejut. Andrie juga pernah beberapa kalimengikat hubungan dengan wanita lain. Meski hubungan itu kebanyakkan tak berlangsung lama.

Di ketinggian mencapai 5000 mil dari bumi, sebuah pesawat mengudara, dengan pilot Barry Sobar dan co-pilot Tommy Suryono. Dengan tujuan Jakarta-Dubai. Cuaca cerah, diiringin angin yang cukup dingin.

“Sobar, apakah kamu sakit? Wajahmu begitu pucatnya.” Tom merasa khawatir dengan keadaan Barry.

“tidak apa-apa…,” jawab Barry, masih menatap erat foto ia bersama istrinya. Yang menurut itu sudah berakhir. Ia merasa tugas sebagai suaminya sangatlah mengecewakan. Tak ada lagi harus ia perbuat, hanyalah mati. Mati…

“Maaf, kapten. Saya sebagai co-pilot, menyarankan kapten untuk istirahat seje…” Tapi kapten Barry dengan cepat meraih tangan Tom.

“Saya tidak apa-apa hanya sedikit pusing. Tolong ambilkan sebutir aspirin.”

“Baiklah, kapten. Pesawat kita pasangkan kemudi otomatis terlebih dahulu.” Tom segera menekan tombol-tombol-yang ia hapal luar kepala. Sesudah co-pilot itu keluar dari ruangan kabin. Dengan cepat Barry mengunci. Dia kembali duduk. Dan menangis. Foto itu telah basah dan lecek. Terkena air matanya yang tak tertahankan. Deras semakin deras. Kepedihan begitu dalam ia rasakan.

Terdengar suara-suara co-pilotnya memanggil-manggil namanya-agar dibukakan pintu. Tetap tak digubrisnya. Ia larut dalam kesedihan. Dihapusnya air mata dipipinya. Terdiam, menundukan kepala. Lalu ia siap. Siap untuk kematiannya…

Pesawat itu semakin menukik dengan cepat. Para awak pesawat beserta penumpang berteriak histeris. Kemalangan bagi mereka. 5000 M…. 950 M… 700 M… 100 M dan ledakan tak terelakan lagi. Pesawat itu hancur berkeping-keping. Dapat dikatakan tak ada yang dapat selamat!

-End?? ato Continued….???- Bodo ah hahahahhahhaa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s