Mendung Bukan Berarti Hujan


Yakin telah sampai tempat pemberhentian yang seharusnya. Ia menekan tombol bel-yang telah lama diperhatikan-di atas kepalanya. Dirogoh saku celana mengambil uang recehan dua ribu rupiah dan segera membayarkan ongkos bisnya.

Ia menyeberang dengan hati-hati, mengikuti siswa-siswa lain yang sama dengannya. Kepalanya ditundukkan. Menahan rasa ngantuk. Malu menguap. Ia melangkah dengan kadang-kadang diperlambat dan kadang-kadang dipercepat. Sesuai yang ia mau. Sesampai di gerbang sekolah. Hanya satu yang Ia pikirkan: meminjam pekerjaan teman, dan menyalinnya dibuku tugas. Dinaikinya anak tangga itu satu demi satu. Dengan kepala tertunduk; lesu, ngantuk. Dilihatnya David, tegak di depan pintu kelas, “Pagi. Susan sudah datang belum?”

“Cowo Susan suka datang ke kelas?”

“Biasanya,” kata David singkat. Tidak seperti biasa.

“Biasanya…. Biasa bagaimana?”

Saat melihat-lihat sekeliling kelas. Matanya menemukan seorang perempuan. Duduk. “Pa-gi, Susan,” sapanya canggung, “Kamu dengar pembicaraan kami tadi?”

“Bukan saya yang mulai. Dia yang mulai.” Ia menunjuk ke arah David. Pergi meninggalkan diri mereka.

Susan mengeluarkan senyuman tipisnya. Sangat tipis. Dan meneruskan perkerjaannya: menyalin tugas.

“Mengerjakan tugas apa?”

“Tugas Matematika.” Senyumnya mekar. Dan tetap tipis.

Dennis memperhatikan wajah manis dihadapannya. Menunduk. Seperti sang putri. Sungguh sejuk. Indah. Diperhatikannya dengan seksama. Menggairahkan. Gerak matanya, terpusat jernih pada gerak tangan. Halus. Ingin ia rasakan kehalusannya. Dennis tetap menatap bisu. “Ada yang salah?” ucapan Susan membuyarkan lamunannya

“’Dia’ sebentar lagi menemui kamu?”

“Tidak.” Senyumnya kembali tipis.

“Mengapa? Apakah dia belum datang?”

“Tidak….” Ia tersenyum. “Tidak tahu, ya.”

Dennis merasakan ada yang tidak beres dengan mereka. Senyum tipisnya mungkin dapat menutupi kesedihan. Kesepiannya. Tapi matanya, tidak. “Boleh saya duduk di sampingmu?”

“Silakan.” Tetap dibarengi senyum itu.

Didorong tubuhnya. Ransel tetap dipundak. Tidak dilepas. Duduk bersebelahan dengannya; bila ini mimpi. Ia tak mau bangun. Tak mau hanya sekejap. Diliriknya perempuan itu. Indah. Dan sangat indah. Gerakan matanya. Lembut. Tatapan penuh kesejukan, penuh kasih sayang.

“Apakah ‘dia’ akan datang?” tanyanya masih ragu-ragu.

Kepalanya mendongah, “Tidak. Dan semoga tidak.”

“Ada masalahkah diantara kalian?” tanyanya hati-hati. Memenuhi keingintahuannya.

“Ya…. Kami baru saja putus….”

Matanya menatap polos.

“Putus… Sorry. Saya tidak bermaksud….” Ia tak meneruskan. Ditatapnya wajah itu. Apakah ini suatu kesempatan. Tapi, mengapa bisa putus. Bukankah ia yang suka. Apakah yang salah? “Maaf sekali lagi. Bisakah saya tahu siapa yang mengambil keputusan ini?” tanyanya. Ia ingin tahu lebih banyak lagi.

“Bisa dikatakan kami sama-sama setuju.”

Dilihatnya ada peluang kembali untuk dirinya, “Susan, bisakah saya menemuimu di depan kelas ini sewaktu jam istirahat-sendirian.”

“Mungkin bisa. Lihatlah nanti.” Suatu ja-waban yang tidak pasti. Tapi. Satu senyuman kembali terlihat dibibirnya. Sama-sama tipis. Senyuman misterius. Iyahan atau lirih?

Buku itu diletakannya begitu saja. Waktu istirahat telah tiba. Dennis segera keluar dari kelas. Ada janji yang harus dipenuhi.

“Hai, saya kira kamu tidak akan mau menerimaku.”

“Tidak sulitkan?” ucapnya dengan diiringi senyum yang manis itu.

“Adakah kata yang tepat untukku?”

“Kata…? Hanya kamu yang tahu.”

“Bila… menurutmu,” ujarnya menahan nafas dulu, “mungkinkah diriku bisa bersamamu.”

Susan tersenyum dan lalu berkata, “Bisa. Itu bisa. Apabila kamu menginginkannya…”

Senyum itu kembali merekah, bukan satu tapi dua. Menyambut apa yang semestinya.

—End—

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s