Kematian Datang Kembali

siaaangg!! damn g kagak ada mud lg…!!

cuman krn ditunjukan lagi oleh Yang Maha Kuasa akan arti ‘kehidupan’….plak pok plak pok…diriku spt ditabok seketika…. ini idup…inilah dunia…didalamnya tak semua indah spt di bungkusnya…..

diriku dikeliling org2 yg suka menguji Tuhan…mencobai Tuhan…bukan dgn sesuatu yg sulit2…terkadang mrk suka memaksa dgn hal2 yg sepele tp akan menjadi rumit bila dijadikan bahan refleksi:

‘siapa jodohku dia ato dia????’
‘mo berbuat baek ahh biar Tuhan kasih g byk rejeki!’

————> tp g jg menyadari g jg spt mereka….g jg kadang mengeluh dan meyalahkan segala hal kemalangan dan kesedihan yg terjadi dlm idup g kpd Tuhan;
‘mengapa hrs g??!!’
‘kok g trs???!! napa???!!’
‘idup ga adil!!!’
‘bukannya masalahku lbh berat drpd dia…knapa aku tdk ditolong??!!’
‘napa g hrs kja keras trs tp hasilnya tdk memuaskan??!!’

dan…dan…dan lagi lagi yang laennya…..

ahh….diri g pun ga ada jwbnya yg kuat. cuman g selalu ingat akan kalimat bunyinya kira2 spt ini; Tuhan tidak menjadikan idupmu penuh dgn keindahan, Tuhan tidak selalu menjadikan idupmu penuh dgn kebahagian…. tetapi Tuhan menjanjikan bahwa Dia akan selalu ada di sampingmu, membrikan kekuatan saat dirimu mengalami kehampaan, kemalangan dan kesedihan….

jux it guys, g butuh menenangkan diri dulu neh….ampe2 tlp klien aja g blok…. parah….. T.T sori jg buat pan2…

btw turut berduka cita buat korban Situ Gintung……. satu lg ‘arti kehidupan’ yg ditunjukan Tuhan pd kt saat ini…..

Iklan

Ketan Item vs Sate Padang

ahhh…page2 uda ngurusin kjaan aja… tp klo ga gini ga bisa dpt duit mkn tar ;p met nyepi ya guys! buat bisma ama oming…btw komang lo msh nyepi ga seh…dimana seh lo skr brow???

walaaaahh….page2 uda liat foto yg g ga mau liat dah…jd mellow dh T.T ….hmmm kok si bisma bisa punya anak anjing lucu yaxx..emg dia bs bunting anak anjing? *jux thinking*

ok…gini ceritanya Ketan item vs Sate padang:

Alkisah iduplah seorang putri bernama Antok, nama panjangnya anni patok hehehe… antok ini senang membantu penduduk sekitar, dia sungguh anak baek dan berbakti pada nusa dan bangsa ;p… pda suatu hari si antok yg indah rupa tp buruk gigi ini (hehehe kiding) membantu seorang ibu yang sedang kesusahan,  dgn sekuat tenaga antok mengangkat dan meninggikan harkat martabak ibu ini *hmmm yummy 😉

krn merasa telah menolong, si antok ingin mendapatkan balas budi…yeee paraahh kaww an..!!! dan ibu itu tergopoh2 masuk kerumhnya dan mencari sesuatu di barang di bawah kasurnya, ternyata dan ternyata sebuah peti emas yang dilapisin cocopan muncul dengan dasyatnya…

‘anak ku yang tersayang.’ kata ibu itu… dan antok pun membalas ‘ya ibuku yang terlucu, ada apa?’

‘ini hadiah untukmu sebuah peti yang telah lama ibu simpan, peti ini peninggalan dari kerajaan sriwijaya.’ (next kt akan mengupas abis soal sriwijaya)

‘isinya apa bu?’

‘terimaalah… tp jgn buka sebelum malam tiba, geledek menyambar2, anak kucing selesai boker dan sebelum kamuu membuka peti ini kamu hrs mengupdate status fesbuk kamu hai anakku!!!!’ hehhehe…

dan diterimalah peti tersebut, dan sang putri (putri drmana seh??) segera pulang kerumah…diiringin nyanyian sheila on 7 akuuu pulaaangg…….tanpaa dendammmmm hehehe…apa coba…. 😉

*walahh…g pengen boker neh!!*

so… krn terburu2 g nya mo boker kt persingkat ceritanya hehehe….

dan dibukalah peti itu dgn hati yang gembira, dan ternyata isinya adalah…………. butiran ketan dan tusuk sate… apa maksudnya ini? kenapa si ibu yang baek hati itu memberi putri antok ketan dan tusuk sate? ada apa gerangan? yuu mari kt saksikan kelanjutannya minggu depan hohohoho…. kiding kok guys..

lanjut… didalm petinya ada secarik kertas, yg berisi kalimat spt ini:

‘Manusia bisa lupa, manusia bisa saling membunuh hanya karena ambisi dan dendam. Dunia terus berputar, dunia terus berjalan meninggalkan yang terlambat menyadari keliruannya. Ketan item dan setusuk sate padang ini melambangkan kekuatan, melambangkan keseimbangan ragawi dan rohani manusia. Pilihan ada ditanganmu.’ *efeknya spt film SAW hehhee

(krn buru2 dan g ga ngerti bhs jaman kerajaan sriwijaya so segitu aja deh terjemahannya)

jadi gini guys, ketan item melambangkan roh mu dan sate padang itu badani..hmmm napa pula pk ketan ama sate?? aneh.

Putri antok pun memilih ketan item dgn mantap…ya iyalah satenya tinggal tusuknya doang..emg mo jadiin tusuk konde?? ato sumpit?? repot kan hahhahha…

Disemainya ketan item itu di halaman dpn rmhnya, dipupuknya dgn cinta, disiramnya dgn kasih.. aiiss hahahah… dan akhirnya butiran menjadi tunas, tunas menjadi puhun, puhun ketan item pun berdiri kokoh, berbuah lebat dan memberikan kemakmuran kpd seluruh penduduk desa tsb. -END-

hehhee..uda ah guys, g kudu boker ama mande mo ke senci..btw buat anni selamat ya uda jadian..!! ^^

Teman

Jangan bersedih teman, cinta tak mengenal batas wilayah
Cinta tak mengenal kata jauh

Cinta tak mengenal lelah

Jangan bersedih teman, cinta ini hanya untukmu
Cinta ini tak akan lari dari hadapanmu

Jangan bersedih teman, ku selalu setia menunggu

Malazzz….

maret 25 09

gileee…. uda seminggu g kyk zombie ga pernah makan mpek2 setahun..!! males bgt mo gerak, ga ada semangat neh guys!

tidur2an dikasur… dilantai…. dimeja..waks! ;p ato cuman guling2 ga jelas…. ga ada spiritnya neh… hmmm gejala apa ini yaa??? kata cimyan seh gejala patah atii…walah patah ati ama sapa??? wong nyantai2 aja gini kok…cimyan emang aneh deh.. kekurangan gizi kwetiew sapi neh ;p

tadi page g baru smsin ke tmn2 isinya gini: (kurang lebih ya); hidup itu mula dan akhir yang tiada pernah henti, yg akan kita pejuang kan selalu. Terkadang dlm pejalanan idup kt mengalamin perubahan yg tak kt inginin dan kesedihan yang trs terjadi, tp bukannya tiap hari dan tiap menit selalu ada kelahiran, sukacita baru, so jangan keilangan semangat guys! ;>

weleh2 wise bgt g yaxx..!! hahaha …iye kadang klo g lg down sukanya sok wise gt hahahha…. tp sesungguhnya everyone butuh hug2 hahhah..

uda ah mo grok2 dulu neh… tp klien uda kebakaran teriak2 mana designnya!!! haaa… moso g jwb malazz bs berabe nehh ;p

Langkahkan Kaki

Ku langkahkan kaki,
menuruni lereng pegunungan yang penuh dengan jurang.

Ku langkahkan kaki dengan hati gembira,
karena aku tak sendiri, aku ditemaniNya.

Ku langkahkan kaki denganNya,
berdua, menyusuri jalan-jalan yang berliku.

Berdua langkahkan kaki, dengan kasihNya,
terasa ringan jalan yang dilalui.

Berdua langkahkan kaki, dengan cintaNya,
terasa sejuk udara yang terhirup.

Berdua langkahkan kaki, sampai lelah kaki ini,
tak putus cinta ini padaNya.

-End- wuik’

Rintihan Hati Ini

Sudah habis harap ini memohon
Sudah kering mata ini mengusap
Capai muka ini memelas kasihan
Kurus tangan ini menengadah
Memohon ya Allah…
Belas kasihan-Mu, hamba-hamba-Mu
Hina terasa diri ini sudah

Tiada harap terbawa
Terbayang ratap tangis anak
Menunggu diri ini,
Menunggu ya Allah…
Menunggu kemuliaan-Mu

Terlangkah kaki tak kuasa
Terdorong tangan berbuat dosa
Dosa…ya Allah

Maafkan diri ini Nak!
Bukan ini kuharapkan, bukan!…
Maafkan Nak…
Bila perbuatan ini tak berkenan di hati
Maafkan Nak…
Bukan mauku merenggut hak hidupmu… bukan…bukan…

End – hihiihih sadisnya dikau oh bapak!!!

Mendung Bukan Berarti Hujan

Yakin telah sampai tempat pemberhentian yang seharusnya. Ia menekan tombol bel-yang telah lama diperhatikan-di atas kepalanya. Dirogoh saku celana mengambil uang recehan dua ribu rupiah dan segera membayarkan ongkos bisnya.

Ia menyeberang dengan hati-hati, mengikuti siswa-siswa lain yang sama dengannya. Kepalanya ditundukkan. Menahan rasa ngantuk. Malu menguap. Ia melangkah dengan kadang-kadang diperlambat dan kadang-kadang dipercepat. Sesuai yang ia mau. Sesampai di gerbang sekolah. Hanya satu yang Ia pikirkan: meminjam pekerjaan teman, dan menyalinnya dibuku tugas. Dinaikinya anak tangga itu satu demi satu. Dengan kepala tertunduk; lesu, ngantuk. Dilihatnya David, tegak di depan pintu kelas, “Pagi. Susan sudah datang belum?”

“Cowo Susan suka datang ke kelas?”

“Biasanya,” kata David singkat. Tidak seperti biasa.

“Biasanya…. Biasa bagaimana?”

Saat melihat-lihat sekeliling kelas. Matanya menemukan seorang perempuan. Duduk. “Pa-gi, Susan,” sapanya canggung, “Kamu dengar pembicaraan kami tadi?”

“Bukan saya yang mulai. Dia yang mulai.” Ia menunjuk ke arah David. Pergi meninggalkan diri mereka.

Susan mengeluarkan senyuman tipisnya. Sangat tipis. Dan meneruskan perkerjaannya: menyalin tugas.

“Mengerjakan tugas apa?”

“Tugas Matematika.” Senyumnya mekar. Dan tetap tipis.

Dennis memperhatikan wajah manis dihadapannya. Menunduk. Seperti sang putri. Sungguh sejuk. Indah. Diperhatikannya dengan seksama. Menggairahkan. Gerak matanya, terpusat jernih pada gerak tangan. Halus. Ingin ia rasakan kehalusannya. Dennis tetap menatap bisu. “Ada yang salah?” ucapan Susan membuyarkan lamunannya

“’Dia’ sebentar lagi menemui kamu?”

“Tidak.” Senyumnya kembali tipis.

“Mengapa? Apakah dia belum datang?”

“Tidak….” Ia tersenyum. “Tidak tahu, ya.”

Dennis merasakan ada yang tidak beres dengan mereka. Senyum tipisnya mungkin dapat menutupi kesedihan. Kesepiannya. Tapi matanya, tidak. “Boleh saya duduk di sampingmu?”

“Silakan.” Tetap dibarengi senyum itu.

Didorong tubuhnya. Ransel tetap dipundak. Tidak dilepas. Duduk bersebelahan dengannya; bila ini mimpi. Ia tak mau bangun. Tak mau hanya sekejap. Diliriknya perempuan itu. Indah. Dan sangat indah. Gerakan matanya. Lembut. Tatapan penuh kesejukan, penuh kasih sayang.

“Apakah ‘dia’ akan datang?” tanyanya masih ragu-ragu.

Kepalanya mendongah, “Tidak. Dan semoga tidak.”

“Ada masalahkah diantara kalian?” tanyanya hati-hati. Memenuhi keingintahuannya.

“Ya…. Kami baru saja putus….”

Matanya menatap polos.

“Putus… Sorry. Saya tidak bermaksud….” Ia tak meneruskan. Ditatapnya wajah itu. Apakah ini suatu kesempatan. Tapi, mengapa bisa putus. Bukankah ia yang suka. Apakah yang salah? “Maaf sekali lagi. Bisakah saya tahu siapa yang mengambil keputusan ini?” tanyanya. Ia ingin tahu lebih banyak lagi.

“Bisa dikatakan kami sama-sama setuju.”

Dilihatnya ada peluang kembali untuk dirinya, “Susan, bisakah saya menemuimu di depan kelas ini sewaktu jam istirahat-sendirian.”

“Mungkin bisa. Lihatlah nanti.” Suatu ja-waban yang tidak pasti. Tapi. Satu senyuman kembali terlihat dibibirnya. Sama-sama tipis. Senyuman misterius. Iyahan atau lirih?

Buku itu diletakannya begitu saja. Waktu istirahat telah tiba. Dennis segera keluar dari kelas. Ada janji yang harus dipenuhi.

“Hai, saya kira kamu tidak akan mau menerimaku.”

“Tidak sulitkan?” ucapnya dengan diiringi senyum yang manis itu.

“Adakah kata yang tepat untukku?”

“Kata…? Hanya kamu yang tahu.”

“Bila… menurutmu,” ujarnya menahan nafas dulu, “mungkinkah diriku bisa bersamamu.”

Susan tersenyum dan lalu berkata, “Bisa. Itu bisa. Apabila kamu menginginkannya…”

Senyum itu kembali merekah, bukan satu tapi dua. Menyambut apa yang semestinya.

—End—