Wayne’s Ilmu Pelet Mbah Dukun Part 1


Pagi itu Wayne sudah keliatan rapi, berseragam coklat-coklat. Seragam pramuka , ‘cos hari itu hari Jumat.

“Nih, punya sekolah reseh sekali sih! Tahun lalu kan nggak makai ginian,” cetus Wayne kesel.

Mami Wayne yang dari tadi memperhatikan anak Mami satu-satunya itu menggoda, “Anak Mami cakep dech, seperti petugas iuran sampah. Hihihihihi…”

Muncul dech tawa Mami yang paling Wayne nggak sukai, membuat orang merinding aja! gumam Wayne dalam hati.

Pernah Wayne ketakutan setengah mati mendengar tawa Mami itu. Ceritanya, Wayne punya halaman di belakang rumah. Penuh dengan pohon besar dan menyeramkan, cocok untuk syuting filem Freddy Krugger, itu loh filem yang diperani Mick Jagger! (nah lho?!)

Ada sih perusahaan filem syuting di situ, besoknya semua pemain pada be put in the status of suspended with pay (nggak ngerti? Sama!).

Kebetulan Wayne cerita pada Jontet, temen Wayne yang bontetnya nggak ketulungan. Kayak drum berjalan, hahahahaha… Eh, udah buat dosa aja! Jontet, eh, kita panggil aja Tet, yah! Biar Simpel. Si Tet ini, hobinya maen dukun-dukunan, mau bersemedi di hutan rimbanya Wayne, hitung-hitung cari ilmu pelet baru katanya. Pemberitahuan aja, halaman rumah Wayne seluas lapangan bola kaki lebih dikit, yah sekitar 5 inchi!

Mulanya, Wayne gak mau, “Apaan sih maen semedi-semedian, emangnya rumah gue loe anggap apa!”

“Tolong dong Wayne, loe kok kejam sih!” Tet merengek-rengek minta diijinkan, sampai-sampai menjilati sepatunya Wayne. Gile tuh anak, ngebet banget!

“Nggak bisa! Sekali gue bilang nggak bisa, yah, nggak bisa!”

Hari demi hari Wayne lalui bersama Tet (kayak lagu yah!). Genap sepuluh menit, Wayne merasa kesian.

“Tet, loe emang gigih, gue salut ama loe. Besok kan sekolah kita pulang cepat ada rapat guru, en besoknya libur.Loe boleh dech ber-semedi di tempat gue, nyingkep-nyingkep loe di sono, gue rela kok, ikhlaaas, suer!”kata Wayne setelah meneken kontrak penjanjian dengan Tet.

“Isi perjanjiannya sih nggak sulit-sulit amat, Amat aja nggak sulit kok,” kata Wayne diplomasi, “bener, tanya aja ama si Rahmat.”

“Yang pertama loe harus mau bawain segala macam perabotan gue ke sekolah, semacam kulkas, tape, tipi, meja belajar…”

Nih, anak sekolah apa ngekost, yah?

“Kedua, loe harus beliin gue roti coklat yang enak, tapi ingat gue nggak mau seperti kejadian tempo dulu.”

Kejadian tempo dulu, si Tet disuruh Wayne beliin roti coklat, eh, dasar si Tet bego, ia beli roti cap mas Kecoa, koma dech Wayne di Rumah Sakit. Apalagi si Wayne paling alergi dengan yang namanya peralatan suntik. Mampus dech! Untungnya Wayne hanya beberapa jam saja dikerjai para dokter. Lah wong cuman kebanyakkan makan aja, kok!

“Dan ketiga gue mau…sini kuping loe.” Menarik kuping Tet mendekat ke kaki, eh… ke mulut Wayne.

“You tau kan, kalo gue suka ama cewek yang berambut kepang itu,” Wayne berbisik pelan (terang dong, apa berbisik keras-keras?).

“Kelabang? Siapa tuh? Kalo krupuk kemplang, gue tau!”

“Itu, cewek yang duduk di depan, samping Atung.”

“Patung? Mana ada patung, Wayne ngigau kali?!”

Wayne mula kagak sabaran. “SUSI, Tauuu!!!” Kontan seluruh mata menoleh ke arah Wayne, kecuali mata Ba’ong, teman sekelas yang lagi bobok!

“Siapaaa itu! K… (sensor!) yah! Tau ini jangka.”

Guru geo yang terkenal kejam itu mengacung-ngacungkan senjata andalannya. Jangka berbisa!

Yah, tau pak itu jangka, bukan dodol, guru kok bego, kata Wayne dalam hati.

“Entar tembus ini di perut, diem-diemlah kamu!”

Teeeeeeeeet… Teeeet… (bon) Teeeeeet…

Seluruh kelas mengembus nafas panjang, lega, bo…! Terutama Wayne, kecuali si Ba’ong still bobok (gile nih anak, tidur apa is dead?).

Acara bersemedinya hampir aja dipetieskan oleh Wayne akibat kejadian memalukan tadi. Tapi si Tet bisa berlega hati lagi, soalnya Wayne mau mengurungkan niatnya itu. Tapi ditambah dengan syarat keempat. Syarat keempatnya nggak usah disebutin yah! Entar kalian pada muntah-muntah plus pingsan (idih, buat penasaran aja!).

Mulailah acara persemedian tersebut. Si Tet pada mulanya kegirangan, tapi setelah melakukan survey (istilah ngacaunya memonitor), melihat kondisi lokasi yang begitu menyeramkan. Apa lagi, malam itu malam Jumat (baca: Jum-at) kliwon, kecut hatinya.

“Nggak jadilah Wayne, kita tidur di kamar aja yah!”

“Aah, loe gimana sih, dasar plinplan!” Wayne sebal jadinya. “Pokoknya! Sekali aku bilang ya! Yah… harus ya! Aku orangnya nggak gituan…eeeh.”

Wayne berpikir sejenak.

“…Sekali, eh…dua kali…eh… sering kok! Hehehehe.” Wayne cengengesan malu.

“Yah, udah kita semedinya di kamar gue aja! Cepetan pasang tendanya!” kata Wayne judes.

“Tendanya, udah terpasang, Wayne.”

“APAAAaaa.”

Duh, nih anak buat orang jantungan aja!

“Udah terpasang! Siapa yang masangnya?!”

“Aye, Wayne!” sambar Nyunyun, asisten pribadi Wayne, yang kebetulan lagi nguping pembicaraan Wayne dan Tet.

“Gue kan belum suruh pasang, ngapa si Nyun udah masang?”

Mata Wayne memerah seketika, tercolok tangan Nyunyun yang bau bawang.

“Aaah, Wayne! Nyun kan belum ‘masang’!”

“Eh… Nyun, ngomong apaan sih?” Wayne pura-pura gak tau.

“Gue bilang, tendanya ngapa udah dipasang?”

“Wayne kan nantinya suruh Nyun juga yang masangnya.”

“Udah-udah, bongkar lagi tuh tenda!”

“Iiiiiiiih, Waaaayne, gemes dech!” Nyunyun geregetan lihat tingkah Wayne.

“Apa-apaan sih, pakai cubit-cubit segala.” Wayne tambah sebal jadinya, tapi asyik juga sih. Hehehehe…

Akhirnya, jadi juga Wayne dan Tet bersemedi, setelah Nyunyun membantu mendirikan kembali tenda untuk tempat bersemedinya.

Kata Wayne, “Gue hanya nemanin Tet, gue nggak perlu ilmu-ilmu pelet… kalo ilmunya dapat syukurlah, kalo nggak… awas aja si Tet, ia harus membayar segala yang ia pakai di rumah gue.”

Malam kian larut, Wayne dan si Tet masih berada di dalam tenda yang dipenuhi asap kemenyan. Wayne mulai nggak tahan, dari tadi celingak-celinguk putar kepala gaya wongngabu, triping!

Tet mulutnya komat-kamit, entah apa yang diucapkannya.

Tiba-tiba terdengar ketawa cekikikan. Wayne kontan memeluk Susi… eh… Tet.

“W-wayne, suuu…suaara ke-eetawa siapa tuh…?” Tet bergidik terangsang.

“Uuuuh… guuee kagak taaauuu!”

Dan terdengar lagi tawa itu, kayak ini tawa-nya: Hahaaiihohoohuuuehee… (serem, yah?).

Wayne dan Tet berteriak ketakutan keluar dari persemedian loncat ke tempat tidur ke bawah selimut.

Mau tau teriaknya gimana, “Aaaauuuoooh-hhh,” gitu mereka teriak.

Wayne merasa ada yang mencolek bahunya dari belakang. Yah, terpaksa teriak lagi.

“Kyaa-aaahhhh!”

“Apa-apaan sih Wayne, buat mami kaget aja! Mau buat Mami opname yah?!”

Ternyata si mami yang mencolek Wayne.

“Apa, Nyonya cari nama ? Nama buat apa Nyonya?” Si Nyunyun lagi-lagi lagi nguping.

“Nggak Nyun, tolong panggilkan taksi!”

“Untuk apa Nyonya?”

“Untuk bawa kamu ke Lubang Buaya.”

“Ah, Nyonya, bisa aja. Gimana kalo Nyonya aja?”

“Eeeh, ngelunjak kamu yah! Udah tidur sana gih!” Mamimenyudahipembicarandengan Nyunyun,nggak enak sama Wayne dan Tet dari tadi dicuekin

“Kamu kenapa Wayne, pakai teriak-teriak segala?”

“Yang ketawa, tadi Mami yah? Iya apa iya?” selidiki Wayne.

“Iya apa iya??? Yah, jawabannya iya.” Mami tersenyum genit.

“Jadi, hihihahahohohohehehe, tadi Mami?” Mami mengangguk gaya barongsai.

“Emangnya Mami lagi ngapain sih, tengah malam lagi?”

“Mami lagi nonton filem, judulnya ‘Vampir Mencomot Wayne’.”

Biasa mami lagi bercanda.

“Aaah… mami.” Wayne tersenyum geli.

Mami ikut tersenyum melihat anaknya itu.

“Ngapain si Tet, kok diam begitu?”

“Pas ngeloncat ke tempat tidur tadi, Tet kejedut sama bola boling, koit kali dia Mam?”

“Yah, udah tidur! Tapi jangan lupa panggil pemadam kebakaran, tendanya kebakaran tuh!”

Sejak saat itu Wayne nggak mau lagi kalo diajak si Tet bersemedi.

“Kapok dech, cukup lima kali aja,” kata Wayne.

_____________________________________________________

-Bersambung loh- kan ku lanjutkan walo norak^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s