Sentuh Hatiku

Bapa ajarku mengerti sebuah kasih yang selalu memberi, bagai air mengalir yang tiada pernah berhenti…..

Kalimat yang sangat gampang tuk dibaca dan dinyanyikan, tp setulus itukah hati kita saat kita memberi bahkan menunjukan kasih kita kepada sesama, pasangan ato orang yang kita sukai tanpa berharap mereka, dia, ato pasangan kita berlaku seperti yang telah kita lakukan?

Menanti

Sobat, terkadang didalam hidup ini, permasalahan, pertengkaran dan penolakan sering terjadi… hendaknya luka yang tergores tak kan membuat langkah anda terhenti.. ada Tuhan yang menopang hidup kita, ada Tuhan yang menghibur kita, ada Tuhan yang menghapus air mata kalian… jangan bersedih dan jangan berlarut-larut dalam keterpurukan… bangkit, berdoa dan jalanin hidup. Karena Tuhan ingin kita sebagai anak-anaknya menikmati hidup ini..

Hiduplah dengan cinta yang telah Tuhan bri ke kita, Tuhan tidak mengharapkan apa-apa, selain kita bahagia dan tersenyum….

sentuh hatiku
sentuh hatiku

Sobat, dihadapanku ada secarik kertas yang berisikan lirik lagu “Sentuh Hatiku”, dan saat ini juga Tuhan telah menyentuh hatiku, memberikan kekuatan dan Dia menghapus air mataku, Dia berusaha membuatku tersenyum…bahkan air mata ini tak berhenti menetes pun Tuhan tetap disampingku, dan Dia ikut meneteskan air mataNya…Terima kasih Tuhan…

Cinta kita boleh ditolak, pemberian kita boleh tak terbalas, kasih yang kita harapkan pada orang yang kita sayangin boleh terhalang tembok dan membuat luka dihati, tapi Tuhan selalu ada bersama kita, Dia sekarang menyentuh hati kalian, guys! Perhatikan sekililing hidupmu, Tuhan hadir melalui keluargamu, pasanganmu, temanmu. Dia menyapamu melalui matahari dipagi hari, Dia datang melalui kabar ato SMS temen-temen kita yang disaat kita ‘down’ memberi peneguhan, penguatan bahwa kita tidak sendirian, bukalah hati kalian dan rasakan kehadiran Tuhan….

Tuhan, inilah aku hambamu, ku berterima kasih atas cinta yang telah engkau bri…..

——————————————————————————————————

Post ini diikutsertakan dalam Writing Competition CIBFest 2009 🙂
so, vote blog gue yaaaahh…. plz 😀
Vote di: http://www.jawaban.com/news/cibfest/form_vote.php?blog_id=970
Trenkyuuuu…. 😛

Iklan

Wayne’s Ilmu Pelet Mbah Dukun Part 1

Pagi itu Wayne sudah keliatan rapi, berseragam coklat-coklat. Seragam pramuka , ‘cos hari itu hari Jumat.

“Nih, punya sekolah reseh sekali sih! Tahun lalu kan nggak makai ginian,” cetus Wayne kesel.

Mami Wayne yang dari tadi memperhatikan anak Mami satu-satunya itu menggoda, “Anak Mami cakep dech, seperti petugas iuran sampah. Hihihihihi…”

Muncul dech tawa Mami yang paling Wayne nggak sukai, membuat orang merinding aja! gumam Wayne dalam hati.

Pernah Wayne ketakutan setengah mati mendengar tawa Mami itu. Ceritanya, Wayne punya halaman di belakang rumah. Penuh dengan pohon besar dan menyeramkan, cocok untuk syuting filem Freddy Krugger, itu loh filem yang diperani Mick Jagger! (nah lho?!)

Ada sih perusahaan filem syuting di situ, besoknya semua pemain pada be put in the status of suspended with pay (nggak ngerti? Sama!).

Kebetulan Wayne cerita pada Jontet, temen Wayne yang bontetnya nggak ketulungan. Kayak drum berjalan, hahahahaha… Eh, udah buat dosa aja! Jontet, eh, kita panggil aja Tet, yah! Biar Simpel. Si Tet ini, hobinya maen dukun-dukunan, mau bersemedi di hutan rimbanya Wayne, hitung-hitung cari ilmu pelet baru katanya. Pemberitahuan aja, halaman rumah Wayne seluas lapangan bola kaki lebih dikit, yah sekitar 5 inchi!

Mulanya, Wayne gak mau, “Apaan sih maen semedi-semedian, emangnya rumah gue loe anggap apa!”

“Tolong dong Wayne, loe kok kejam sih!” Tet merengek-rengek minta diijinkan, sampai-sampai menjilati sepatunya Wayne. Gile tuh anak, ngebet banget!

“Nggak bisa! Sekali gue bilang nggak bisa, yah, nggak bisa!”

Hari demi hari Wayne lalui bersama Tet (kayak lagu yah!). Genap sepuluh menit, Wayne merasa kesian.

“Tet, loe emang gigih, gue salut ama loe. Besok kan sekolah kita pulang cepat ada rapat guru, en besoknya libur.Loe boleh dech ber-semedi di tempat gue, nyingkep-nyingkep loe di sono, gue rela kok, ikhlaaas, suer!”kata Wayne setelah meneken kontrak penjanjian dengan Tet.

“Isi perjanjiannya sih nggak sulit-sulit amat, Amat aja nggak sulit kok,” kata Wayne diplomasi, “bener, tanya aja ama si Rahmat.”

“Yang pertama loe harus mau bawain segala macam perabotan gue ke sekolah, semacam kulkas, tape, tipi, meja belajar…”

Nih, anak sekolah apa ngekost, yah?

“Kedua, loe harus beliin gue roti coklat yang enak, tapi ingat gue nggak mau seperti kejadian tempo dulu.”

Kejadian tempo dulu, si Tet disuruh Wayne beliin roti coklat, eh, dasar si Tet bego, ia beli roti cap mas Kecoa, koma dech Wayne di Rumah Sakit. Apalagi si Wayne paling alergi dengan yang namanya peralatan suntik. Mampus dech! Untungnya Wayne hanya beberapa jam saja dikerjai para dokter. Lah wong cuman kebanyakkan makan aja, kok!

“Dan ketiga gue mau…sini kuping loe.” Menarik kuping Tet mendekat ke kaki, eh… ke mulut Wayne.

“You tau kan, kalo gue suka ama cewek yang berambut kepang itu,” Wayne berbisik pelan (terang dong, apa berbisik keras-keras?).

“Kelabang? Siapa tuh? Kalo krupuk kemplang, gue tau!”

“Itu, cewek yang duduk di depan, samping Atung.”

“Patung? Mana ada patung, Wayne ngigau kali?!”

Wayne mula kagak sabaran. “SUSI, Tauuu!!!” Kontan seluruh mata menoleh ke arah Wayne, kecuali mata Ba’ong, teman sekelas yang lagi bobok!

“Siapaaa itu! K… (sensor!) yah! Tau ini jangka.”

Guru geo yang terkenal kejam itu mengacung-ngacungkan senjata andalannya. Jangka berbisa!

Yah, tau pak itu jangka, bukan dodol, guru kok bego, kata Wayne dalam hati.

“Entar tembus ini di perut, diem-diemlah kamu!”

Teeeeeeeeet… Teeeet… (bon) Teeeeeet…

Seluruh kelas mengembus nafas panjang, lega, bo…! Terutama Wayne, kecuali si Ba’ong still bobok (gile nih anak, tidur apa is dead?).

Acara bersemedinya hampir aja dipetieskan oleh Wayne akibat kejadian memalukan tadi. Tapi si Tet bisa berlega hati lagi, soalnya Wayne mau mengurungkan niatnya itu. Tapi ditambah dengan syarat keempat. Syarat keempatnya nggak usah disebutin yah! Entar kalian pada muntah-muntah plus pingsan (idih, buat penasaran aja!).

Mulailah acara persemedian tersebut. Si Tet pada mulanya kegirangan, tapi setelah melakukan survey (istilah ngacaunya memonitor), melihat kondisi lokasi yang begitu menyeramkan. Apa lagi, malam itu malam Jumat (baca: Jum-at) kliwon, kecut hatinya.

“Nggak jadilah Wayne, kita tidur di kamar aja yah!”

“Aah, loe gimana sih, dasar plinplan!” Wayne sebal jadinya. “Pokoknya! Sekali aku bilang ya! Yah… harus ya! Aku orangnya nggak gituan…eeeh.”

Wayne berpikir sejenak.

“…Sekali, eh…dua kali…eh… sering kok! Hehehehe.” Wayne cengengesan malu.

“Yah, udah kita semedinya di kamar gue aja! Cepetan pasang tendanya!” kata Wayne judes.

“Tendanya, udah terpasang, Wayne.”

“APAAAaaa.”

Duh, nih anak buat orang jantungan aja!

“Udah terpasang! Siapa yang masangnya?!”

“Aye, Wayne!” sambar Nyunyun, asisten pribadi Wayne, yang kebetulan lagi nguping pembicaraan Wayne dan Tet.

“Gue kan belum suruh pasang, ngapa si Nyun udah masang?”

Mata Wayne memerah seketika, tercolok tangan Nyunyun yang bau bawang.

“Aaah, Wayne! Nyun kan belum ‘masang’!”

“Eh… Nyun, ngomong apaan sih?” Wayne pura-pura gak tau.

“Gue bilang, tendanya ngapa udah dipasang?”

“Wayne kan nantinya suruh Nyun juga yang masangnya.”

“Udah-udah, bongkar lagi tuh tenda!”

“Iiiiiiiih, Waaaayne, gemes dech!” Nyunyun geregetan lihat tingkah Wayne.

“Apa-apaan sih, pakai cubit-cubit segala.” Wayne tambah sebal jadinya, tapi asyik juga sih. Hehehehe…

Akhirnya, jadi juga Wayne dan Tet bersemedi, setelah Nyunyun membantu mendirikan kembali tenda untuk tempat bersemedinya.

Kata Wayne, “Gue hanya nemanin Tet, gue nggak perlu ilmu-ilmu pelet… kalo ilmunya dapat syukurlah, kalo nggak… awas aja si Tet, ia harus membayar segala yang ia pakai di rumah gue.”

Malam kian larut, Wayne dan si Tet masih berada di dalam tenda yang dipenuhi asap kemenyan. Wayne mulai nggak tahan, dari tadi celingak-celinguk putar kepala gaya wongngabu, triping!

Tet mulutnya komat-kamit, entah apa yang diucapkannya.

Tiba-tiba terdengar ketawa cekikikan. Wayne kontan memeluk Susi… eh… Tet.

“W-wayne, suuu…suaara ke-eetawa siapa tuh…?” Tet bergidik terangsang.

“Uuuuh… guuee kagak taaauuu!”

Dan terdengar lagi tawa itu, kayak ini tawa-nya: Hahaaiihohoohuuuehee… (serem, yah?).

Wayne dan Tet berteriak ketakutan keluar dari persemedian loncat ke tempat tidur ke bawah selimut.

Mau tau teriaknya gimana, “Aaaauuuoooh-hhh,” gitu mereka teriak.

Wayne merasa ada yang mencolek bahunya dari belakang. Yah, terpaksa teriak lagi.

“Kyaa-aaahhhh!”

“Apa-apaan sih Wayne, buat mami kaget aja! Mau buat Mami opname yah?!”

Ternyata si mami yang mencolek Wayne.

“Apa, Nyonya cari nama ? Nama buat apa Nyonya?” Si Nyunyun lagi-lagi lagi nguping.

“Nggak Nyun, tolong panggilkan taksi!”

“Untuk apa Nyonya?”

“Untuk bawa kamu ke Lubang Buaya.”

“Ah, Nyonya, bisa aja. Gimana kalo Nyonya aja?”

“Eeeh, ngelunjak kamu yah! Udah tidur sana gih!” Mamimenyudahipembicarandengan Nyunyun,nggak enak sama Wayne dan Tet dari tadi dicuekin

“Kamu kenapa Wayne, pakai teriak-teriak segala?”

“Yang ketawa, tadi Mami yah? Iya apa iya?” selidiki Wayne.

“Iya apa iya??? Yah, jawabannya iya.” Mami tersenyum genit.

“Jadi, hihihahahohohohehehe, tadi Mami?” Mami mengangguk gaya barongsai.

“Emangnya Mami lagi ngapain sih, tengah malam lagi?”

“Mami lagi nonton filem, judulnya ‘Vampir Mencomot Wayne’.”

Biasa mami lagi bercanda.

“Aaah… mami.” Wayne tersenyum geli.

Mami ikut tersenyum melihat anaknya itu.

“Ngapain si Tet, kok diam begitu?”

“Pas ngeloncat ke tempat tidur tadi, Tet kejedut sama bola boling, koit kali dia Mam?”

“Yah, udah tidur! Tapi jangan lupa panggil pemadam kebakaran, tendanya kebakaran tuh!”

Sejak saat itu Wayne nggak mau lagi kalo diajak si Tet bersemedi.

“Kapok dech, cukup lima kali aja,” kata Wayne.

_____________________________________________________

-Bersambung loh- kan ku lanjutkan walo norak^^

Malam Tak Berangin

Malam tak berangin. Karena siang turun hujan cukup lama. Saat lagi menatap bintang-bintang, bunyi dering telepon. Iren menerima telepon itu, tidak seperti yang diduga, bukanlah orang yang Iren kira. Jam-jam seperti ini, kalau bukan dari mama yang suka menanyakan ‘gimana kuliahnya, sayang’ atau ‘uang sakunya masih ada nggak?’ kalau dibilang udah habis, ‘coba cek deh ATM, nanti mama tambahi’ yah bisa lima bahkan sepuluh juta, beda dengan papa selalu aja menanyakan masalah keadaan Indonesia, emang papaku pengusaha yang cukup sibuk, selalu aja mainannya keluar, ke Hongkonglah, Jerman, China dan lain-lainlah, pokoknya satu bulan tuh ada aja papa meninggalkan mama, untunglah mamaku udah biasa, sejak kecil mamaku udah hidup berdua aja sama kakekku, karena nenek dulu meninggal sewaktu mau melahirkan mama. Mama emang wanita yang tegar, mama dan papa adalah idolaku. Papaku sekarang ada di negara yang kata papaku mendapat julukan negeri dongeng, yah papa melakukan bisnis dengan teman-teman papa di Denmark. Papa udah janji mau bawa oleh-oleh boneka, Iren emang suka sama boneka, habis lucu sih! Kamar Iren penuh dengan boneka-boneka, coba deh kapan-kapan main tempat Iren. Boneka-boneka koleksi Iren semua ada nilai historisnya, boneka bikinan mama masih Iren simpan, Iren waktu itu masih umur lima tahun, mama membikinnya khusus untuk ultah Iren, mamaku orangnya baik ya! Ada satu boneka yang kalau mau pergi-pergi jauh selalu Iren ajak, boneka itu pemberian cowok Iren, Iren sayang banget sama boneka itu, dan… tentunya sama cowok Iren juga dong! Nah, Iren kira yang nelepon itu cowok Iren, eh taunya si David. David tuh temenku satu kampus, ia satu tingkat dia atas Iren. Iren sebelum sama cowok Iren, dulunya suka sama David. Dan kalau ditanya ‘kok malah jadian sama yang sekarang?’, bukannya Iren bertepuk sebelah tangan, David juga suka kok sama Iren, kami dulu sering telepon-teleponnya, yah kadang hari ini si david besok gilirin Iren, saling gantian gitu. David juga suka ke rumah Iren, hanya sekadar mau ngajak ngobrol atau kadang Iren suka nyuruh David merapiin boneka-boneka Iren. Iren tinggal hanya bertiga sama pengasuh Iren, jadi cukup kesepian, mama dan papa aslinya orang Jakarta, Iren pertamanya disuruh sekolah di Jakarta aja biar deket ama mama dan papa, tapi Iren udah bosen dengan kota Jakarta penuh polusi, penuh dengan kemacetan, pokoknya tidak menarik lagi bagi Iren. Mama dan Papa suka juga kok menjenguk Iren. Waktu itulah Iren perlu orang seperti David yang mau menemani Iren kala butuh temen bicara. David orangnya cukup pengertian sama Iren. Dan juga sabar banget, itu emang harus ada karena Iren orangnya manja. David juga suka ngajak Iren jalan-jalan, ke mal hanya cari angin sambil ngobrol-ngobrol, yang Iren suka sama David tuh orangnya kocak banget, punya sense of humor, Iren suka ketawa kalau jalan berdua sama David. Kami juga suka nonton bareng, ke café bareng, pokoknya serba bareng. Nah, kalau kami begitu cocok dan serasinya, itu seperti temen-temen Iren bilang, kok nggak jadian aja? Karena Iren nggak sama agamanya dengan David. Kami sama-sama takut untuk memulai, saat Iren merasakan cintanya David, David sepertinya mulai menghindar dari Iren… Makin lama perasaan cinta Iren terhapus dengan waktu, tapi masih ada rasa sayang sih. “Hi, ren. Pa kabar?” “Baek. Kamu kemana aja sih? Kok baru sekarang telepon?” tanpa sadar manja Iren muncul deh. “Iya, maaf yah aku pikir kamu gak mau bertemu lagi” “Kok kamu berpikir gitu sih?! Kamu gak tau… I…Ir…Iren kangen ama David!” Air mata Iren pun tak tertahan lagi menetes. Bercampur perasaan benci, kangen, senang, dan godok menjadi satu. Ihik..ihik…bingung jadinya.

-End- hohohohoho ;p

mmm..cerita ini ga mungkin g lanjutin deh..kagak ada feel lg bwt nulisnya hehehhe….